Persindonesia.com Jembrana – Beban utang sekitar Rp34 miliar yang masih membelit RSU Negara menjadi sorotan Komisi III DPRD Jembrana. Selain mempertanyakan kondisi keuangan rumah sakit, dewan juga menilai menurunnya ketersediaan obat dan berkurangnya jumlah pasien harus segera mendapat perhatian agar pelayanan kesehatan tidak semakin menurun.
Persoalan tersebut mengemuka dalam rapat kerja Komisi III DPRD Jembrana bersama manajemen RSU Negara yang digelar menjelang pembahasan Badan Anggaran (Banggar).
Ketua Komisi III DPRD Jembrana, Dewa Putu Mertayasa, mengatakan rapat kerja dilakukan untuk memperoleh data riil mengenai kondisi keuangan dan pelayanan RSU Negara. Data tersebut akan menjadi bahan pembahasan dalam rapat Banggar.
“Kami ingin mendapatkan data yang benar-benar riil mengenai kondisi rumah sakit, baik terkait utang, pelayanan, maupun ketersediaan obat. Sebab data yang kami terima sebelumnya berbeda dengan yang disampaikan pada rapat Badan Anggaran,” ujarnya, Senin (27/7).
Menurut Dewa, DPRD juga menerima informasi mengenai menurunnya jumlah pasien yang berobat ke RSU Negara. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi keterbatasan pelayanan, termasuk minimnya stok obat.
Gelombang Tinggi dan Angin Kencang, Penyeberangan Gilimanuk-Ketapang Sempat Ditutup Sementara
Ia berharap manajemen rumah sakit menyampaikan kondisi yang sebenarnya sehingga DPRD dapat menentukan langkah yang tepat dalam memberikan dukungan anggaran.
“Kami pada prinsipnya ingin membantu RSU Negara, terutama agar kebutuhan obat-obatan dan bahan medis habis pakai bisa menjadi prioritas,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur RSU Negara, dr. I Gusti Agung Putu Arisantha menjelaskan total utang rumah sakit pada 2025 mencapai Rp33,4 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar 52 persen atau sekitar Rp17-18 miliar merupakan utang obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP). Sisanya merupakan kewajiban lain seperti jasa pelayanan, Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), kerja sama pelayanan kesehatan, pengelolaan limbah, hingga tagihan utilitas.
Arisanta menjelaskan, meski hingga Juni 2026 rumah sakit telah membayar utang tahun sebelumnya sebesar Rp23,1 miliar, pada saat yang sama muncul kewajiban baru dari belanja operasional tahun berjalan.
Lelaki Asal Pulasari Diringkus Polisi Gegara Curi 2 Slop Rokok dan Motor Vario di Belantih
“Sampai akhir Juli, belanja yang belum terbayarkan mencapai sekitar Rp24 miliar. Jika ditambah sisa utang tahun 2025 sekitar Rp10 miliar, maka total kewajiban rumah sakit saat ini kembali berada di kisaran Rp34 miliar,” jelasnya.
Rata-rata pendapatan rumah sakit selama Januari hingga Juni 2026 berada di kisaran Rp6,1 miliar hingga Rp6,2 miliar per bulan. Sementara pengeluaran rutin mencapai sekitar Rp6,6 miliar per bulan, sehingga rumah sakit mengalami defisit sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta setiap bulan.
Arisantha mengakui keterbatasan obat telah memengaruhi kepercayaan masyarakat sehingga sebagian pasien memilih berobat ke rumah sakit swasta.
“Ketika obat tidak tersedia, hampir setiap hari muncul keluhan pasien. Kondisi itu berdampak pada citra rumah sakit dan menyebabkan migrasi pasien ke rumah sakit swasta. Ketika kunjungan pasien menurun, pendapatan rumah sakit juga ikut menurun,” ungkapnya.
Sebagai upaya memperbaiki kondisi keuangan, manajemen RSU Negara mengaku telah melakukan berbagai langkah efisiensi, di antaranya menurunkan porsi jasa pelayanan dari 30 persen menjadi 25 persen dari total pendapatan rumah sakit.
Kasus Kematian Karumga Eks Jampidsus Dinilai Janggal, FRIC Desak Pengusutan Transparan
“Kebijakan tersebut menghasilkan efisiensi sekitar Rp300 juta hingga Rp400 juta yang dialihkan untuk membantu pengadaan obat dan BMHP,” terangnya.
Arisanta juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Kabupaten Jembrana dapat memberikan dukungan anggaran sekitar Rp10 miliar setiap tahun selama dua tahun untuk membantu penyelesaian beban utang rumah sakit.
“Jika dukungan tersebut terealisasi, pelayanan rumah sakit dapat kembali optimal, ketersediaan obat terjamin, jumlah pasien meningkat, dan kondisi keuangan rumah sakit secara bertahap dapat pulih,” pungkasnya. TS






