Peringatan Hari Kebudayaan Nasional II dan Festival Kesenian Tradisional Pangkalpinang Vol. 4, Sabtu (17/10/2026) malam
Pangkalpinang, persindonesia.com —Sebanyak 29 sanggar seni memeriahkan Festival Kesenian Tradisional Pangkalpinang Vol. 4 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang di Taman Wilhelmina, 17–19 Oktober 2026.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kebudayaan Nasional II, lomba menulis biografi wali kota periode 1956–1978, dan bazar UMKM ini menjadi upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mendorong ekonomi kreatif masyarakat.
Kegiatan yang dibuka pada Sabtu (17/10/2026) tersebut dihadiri Plh Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Syarli Nopriyansah, yang mewakili Wali Kota Saparudin, jajaran perangkat daerah, camat se-Kota Pangkalpinang, unsur Forkopimda, tokoh adat, budayawan, seniman, dan masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang sekaligus Ketua Pelaksana, Darwin, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi para seniman, budayawan, dan masyarakat untuk menjaga serta mengembangkan warisan budaya daerah.
Menurut Darwin, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka.
“Pementasan dan peringatan ini bukan hanya sebatas semangat kebudayaan dan seni, tetapi juga ada dampak ekonomi bagi masyarakat melalui kehadiran tenant-tenant UMKM,” ujarnya.

Dalam sambutan Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, yang dibacakan Syarli Nopriyansah, disampaikan bahwa kebudayaan merupakan akar identitas bangsa, sekaligus kekuatan untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Kebudayaan adalah akar dari identitas bangsa, bukan sekadar tontonan atau warisan masa lalu, melainkan energi yang hidup yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan merawat persatuan di tengah keberagaman,” demikian kutipan sambutan tersebut.
Pemerintah Kota Pangkalpinang berharap peringatan Hari Kebudayaan Nasional, menjadi bagian dari pembinaan sumber daya manusia di bidang kebudayaan secara berkelanjutan.
Pelestarian budaya juga diharapkan mampu mendukung pariwisata berbasis budaya, mengembangkan industri kreatif, serta memberdayakan UMKM lokal.
Festival ini menampilkan beragam kesenian tradisional dan kreasi daerah, mulai dari dambus, rudat, rebana, hadrah, tari tradisional, barongsai, hingga pameran seni rupa.
Sejumlah penampil yang ambil bagian di antaranya Sanggar BTD Pedapuran, Sanggar Buluh Perindu, Grup Rebana Al Humairah, Grup Rebana Muslimah, dan Grup Seni Kawa La Yoh.
Penampilan seni tari kreasi Tupai Meluncat dari Sanggar BTD Pedapuran, tari Rampak Gendang dari Sanggar Buluh Perindu, serta pertunjukan seni dan teatrikal Daek Bedamboh turut menjadi bagian dari rangkaian acara. Penyanyi lokal juga ikut memeriahkan kegiatan tersebut.
Selain pertunjukan seni, panitia mengumumkan pemenang lomba menulis biografi wali kota periode 1956–1978. Juara pertama diraih kelompok Pena Serumpun, juara kedua Sanggar BTD Pedapuran, dan juara ketiga peserta utusan Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Bank Sumsel Babel, PT Timah, Bread City, Josa Entertainment, CV Sumber Jadi, dan Bank Sumsel Babel Syariah.
Melalui festival tersebut, Pemkot Pangkalpinang berharap kesenian dan tradisi lokal terus diwariskan kepada generasi muda, serta menjadi bagian dari penguatan identitas daerah dan penggerak ekonomi kreatif masyarakat. (B2N)






