Persindonsia.com Jembrana – Tokoh Muslim Jembrana menyayangkan aksi provokatif pemilik akun Abdilah Pulukan Bali yang sempat viral di medsos, terkait pelecehan perayaan uapacara melasti menjelang perayaan Nyepi Tahun Baru Caka.
Akibat hal tersebut sehingga terjadi bergejolak luas di media sosial. Tiga tokoh Muslim di Jembrana mempertegas ulah isu sara tersebut. Ditemui Sabtu 13/03 ditempat yang berbeda.
Viral! Ngaku di Hacker, Pemilik Akun Abdilah Pulukan Bali Diamankan Polsek Pekutatan
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jembrana tidak respek dengan bahasa Abdilah yang viral di medsos. Edi Susilo (51) ia mengatakan, sangat prihatin dan menyayangkan dengan bahasa di medsos tidak menyejukan dan tidak toleransi, sekaligus kami mewakili umat muslim dari hati yang paling dalam menyampaikan permohonan maaf atas ulah kebablasannya.
“Perbedaan baik agama, suku dan ras itu adalah suatu rahmat dan kepastian dari Allah SWT,” katanya pada media.
Progres TMMD Fisik dan Non Fisik di Gunungsitoli I
Susilo melanjutkan, sejatinya, umat lain dapat mengambil sisi positif dari kegiatan Hari Raya Nyepi, pertama : kita mempunyai waktu yang bebas selama 1 – 2 hari untuk me-rekondisi-kan fisik dan otak agar bugar kembali, kedua kita juga mempunyai waktu luang untuk meningkatkan ibadah, dzikir kepada Allah SWT lebih tenang dan khusuk.
“Ketiga kita akan menyaksikan keindahan bumi dan alam sekitarnya sepi, berhenti dari kebisingan, keruwetan duniawi, polusi udara serta kita akan menyaksikan bagaimana alam juga me-restart- kembali, dengan jalan raya, halaman rumah, kebun meng-uapkan dirinya sendiri akhirnya udara menjadi segar kembali,” tegasnya.
Gubernur Koster Ajak Kadin Berpartisipasi Upaya Pemulihan Bali
Susilo juga menambahkan, dunia telah mencanangkan hari bumi sedunia, and Just in Bali telah melakukannya lebih dahulu.. ini adalah kenikmatan wisata Bali yang tidak ditemui dimanapun. Ramai-Sibuk-Bising-Ruwet-Polusi itu setiap hari biasa kami hadapi secara rutin, tapi istirahat total hanya bisa kami nikmati sekali setahun.
Sementara saat ditemui ketua Haji Arsad PC NU Jembrana saat diwawancari menyampaikan hal senada, dengan tegas bahwa toleransi umat Islam dan umat Hindu di Bali kental terjalin dengan bahasa menyame braye.
Polri Tangkap 3 Tersangka Kasus Dugaan Pemalsuan Akte Perusahaan
“Sifat saling menghargai, hormat menghormati sudah menjadi abdi luhur sebagai contoh ketika kegiatan bulan Ramadhan dimana umat Hindu sangat menghargai sekali, bahkan menghormati bulan suci Ramadhan,” tegasnya.
Lebih jelasnya H. Arsad mengatakan, disisi kegiatan dilapangan bahkan harmonis indah seperti pengamanan kegiatan beragama terjaga antara Banser dan Pecalang, tak ada perbedaan menyatu demi terciptanya kedamaian dan kerukunan.
Jelang Ramadhan, Koramil 07/Pdk Aren Karbak Bersama Masyarakat Bersihkan Makam Gege
Ditempat yang berbeda, Ketua I MUI Kabupaten Jembarana Haji Tamsil LC mengatakan, kasus isu sara ini sebenarnya tidak sesuai prinsip Islam, sehingga mengganggu kerukunan bersama, hidup saling menghargai dengan toleransi sesuai dengan tatanan prinsip kita UUD pasal 29.
“Janganlah kau hina agama orang lain sehingga orang lain akan menghina agamamu atau janganlah mencaci agama itu sama saja mencaci agama sendiri,” ungkapnya.
Pemdes Kalimas Targetkan Pembangunan Pujasera Diresmikan Sebelum Bulan Ramadhan
Haji Tamsil menghimbau, mari kita jaga toleransi ini yang sudah terjalin indah sejak lama terutama di Bali. Sesuatu yang sudah terjalin indah jangan sampai kita mau diprovokasi oleh oknum-oknum yang bikin meresahkan ini, tutupnya. (Sub/ed27)






