Banjar Penyarikan Jadi Contoh Pengendalian Inflasi Berbasis Komunitas

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa di Banjar Adat Penyarikan, Kelurahan Benoa

Badung Persindonesia.com – Upaya pengendalian inflasi menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya dilakukan pemerintah daerah, tetapi juga mendapat dukungan nyata dari masyarakat adat. Banjar Adat Penyarikan, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, menunjukkan peran aktifnya melalui berbagai program sosial dan ekonomi yang menyasar langsung kebutuhan warga.

Kegiatan yang digelar meliputi pasar murah bersubsidi, pembagian paket sembako, hingga pelaksanaan tradisi mepatung be celeng secara gratis bagi krama adat. Program tersebut merupakan hasil sinergi antara Banjar Adat Penyarikan, Koperasi Ngardi Rahayu, Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana, serta sejumlah pelaku usaha lokal.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa yang hadir meninjau kegiatan pada Sabtu (13/6), memberikan apresiasi atas inisiatif masyarakat yang dinilai mampu memperkuat langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Menurut Bupati, meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya sering kali memicu kenaikan harga sejumlah komoditas. Karena itu, keterlibatan masyarakat melalui gerakan gotong royong menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli warga.

“Partisipasi masyarakat seperti yang dilakukan Banjar Penyarikan sangat membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Selain meringankan beban masyarakat, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal dan UMKM untuk tetap bergerak,” ujar Adi Arnawa.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, koperasi, dan dunia usaha menjadi model yang efektif dalam menghadapi tantangan ekonomi, khususnya saat momentum hari besar keagamaan.

Bupati juga menilai pola pemberdayaan yang diterapkan Banjar Penyarikan layak menjadi inspirasi bagi banjar dan desa adat lainnya di Kabupaten Badung. Selain membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, kegiatan tersebut juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Bali.

Sementara itu, Kelian Adat Banjar Penyarikan I Made Nuryana mengatakan seluruh rangkaian kegiatan lahir dari semangat gotong royong dan rasa kebersamaan antarwarga. Pihaknya berupaya mengoptimalkan seluruh potensi yang ada di lingkungan banjar agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.  “Kami ingin keberadaan lembaga adat dan koperasi tidak hanya berfungsi secara administratif, tetapi benar-benar hadir memberikan manfaat bagi krama. Karena itu seluruh unsur masyarakat kami libatkan untuk bersama-sama membantu warga menghadapi kebutuhan menjelang hari raya,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Banjar Penyarikan membuktikan bahwa pengendalian inflasi dapat dimulai dari tingkat komunitas. Dengan dukungan berbagai pihak, program yang dilaksanakan tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan pelestarian tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Koperasi UKM Kabupaten Badung AA. Sagung Rosyawati, Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana Kompiang Gede Pasek Wedha, perwakilan Bank Indonesia Wilayah Bali Hero Wonida, Bendesa Adat Bulau I Made Suarma, pengurus KSP Ngardi Rahayu, serta krama Banjar Penyarikan.

(Prokompim/Badung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *