Desa Adat Legian Ngerehan Rangda Usir Gering Agung Covid-19, Jln Akan Ditutup Sementara

Persindo Legian Kuta Bali (Senin 31 Januari 2022) – Desa Adat Legian dalam rangka pelaksanakan karya suci berupa Upacara Ngerehan atau Mesuci Laksana, yang akan dilaksanakan pada 3 Februari 2022, untuk itu Desa Adat Legian melaksanakan temu media/jumpa pers dilaksanakan di Gedung Sekretariat Desa Adat Legian. Guna sosialisasi kepada khalayak ramai terkait beberapa hal salah satu adanya pengalihan arus lalulintas yang akan dilaksanakan pada hari tsb.

Hadir Bendesa Adat Legian, Prajuru Desa Adat Legian, Lurah Legian, Ketua LPM Legian.

Dalam Acara temu tersebut sekilas Bendesa Adat Legian Anak Agung Made Mantra, mengucapkan selamat datang bagi awak media yang hadir di Desa Adat Legian terkait acara parikrama desa yang akan berjalan pada 3 Januari nanti, yang harus memerlukan ketelibatan semua pihak secara lengkap.

Bendesa Adat : Anak Agung Made Mantra

Rangkaian dari semua itu Bendesa Adat menjabarkan bahwa ; Adalah sebuah kegiatan yang sudah menjadi hasil paruman Desa Adat Legian terkait dengan acara Ngerehan atau Mesuci Laksana yang akan dilaksanakan di Setra Desa Adat Legian, dilaksanakan dalam rangkaian tertuju kepada Betara Sesuwunan yang diagungkan oleh kerama Desa Adat Legian, Ida Bethara Sesuwunan Tedung Jagat manifestasi berupa Tiga Petapaan.
Perjalanan keseharian yang kita lakukan mencirikan sebagai umat yang subakti kepada Ida Bathara Sesuwunan/Ida Sanghyng Widhi/Tuhan YME sebagai pelindung kita yang bersetana di Tri Khayangan Tiga Desa Adat Legian.
Salah satu prosesi upacara adat yang sudah diputuskan mengikuti perintah Ida Sesuwunan, yang sudah turun berdasarkan wahyu atau sabda atau penika sunia, melalui salah satu penyungsung saat ritual yang trjadi saat upacara Piodalan/Petirtaan di Pura Agung Desa Adat Legian.

Wacana secara magis dari Sesuwunan guna melaksanakan upacara ritual suci Ngerehan atau Mesuci Laksana akan dilaksanakan ditengah setra/kuburan tersebut, sesuai dengan hasil peparuman dan dewasa ayu disepakati dilaksanakan pada tgl 3 Februari 2022, terang Bendesa Adat.
Dijelaskan, ada dua hal prosesi Ngerehan, secara umum dilakukan Kepada Petapaan yang baru yang diawali dengan Upacara Melaspas/mensucikan Pertapaan, kemudian ritual Nganteb guna menyatukan antara Pertapaan berupa topeng dengan badannya, dan Upacara Pasupati guna memberikan jiwa sakral atau menghidupkan Petapaan secara magis. Kemudian ritual yang terakhir adalah Ngerehan.

Petapaan sebagai wujud atau/simbolik dari manifestasi Tuhan(Ida Sanghyang Widi Wasa) dimana Kekuatan spiritual Petapaan akan menjadi payung jagat yang bisa memayungi kehidupan masyarakat, memberikan kekuatan secara sekala dan niskala. Merupàkan ritual suci dan sakral mempunyai nuansa gaib nan suci yang dilakukan di tempat yang dikeramatkan salah satunya Setra/Kuburan.

Puncak Upacara Ngerehan akan dimulai ketika sudah sinyal alam menyatakan sudah Nadi/Dirangsuki oleh Sesuwunan maka para Sadeng Patih akan menjemput Rangda dari Pura Agung diarak menuju Setra yang biasanya ini terjadi pada tengah malam jam 00.00 Wita.

Tujuan dari upacara ini guna permohonan kita sebagai umat di Desa Adat Legian mohon panugrahan, keselamatan, kerhayauan, kesejahteraan buana agung dan buana alit di Legian khususnya dan di Bali, ungkap Bendesa yang berterah Pemecutan dengan jelas.

Prajuru Desa Adat Legian ; Jro Wayan Sunadi.SE.

Dipertegas oleh Prajuru Desa Adat Legian ; Jro Wayan Sunadi.SE, bahwa Ngerehan di Desa adat Legian diistilahkan dengan Mesuci ring tengahing/didalam Setra, sebagai bentuk pelaksanaan Tradisi /Dresta Desa sebagai warisan budaya yang adiluhung yang sudah dilaksakanan secara turun, yang didahului dengan tahapan acara rehab fisik pelawatan kemudian Upacara Melaspas/Penyucian dilanjutkan dengan Upacara Pasupati /Memberikan jiwa suci sakral dan terakhir adalah Upacara Ngerehan.

Ngerehang kali ini di Desa Adat Legian Kaja dilaksanakan karena adanya Wahyu/Pewuwus/Penika Sunia/yang medal /muncul saat Pujawali di Pura Agung Desa Adat Legian melalui Pengayah yang ketapak/keselang atau kerauhang.
Rangkaian ngerehang meliputi Ngerehang di Setra Bebajangan dilanjutkan dengan Mesuci ke Segara dan Napak Pertiwi/mesolah mepajar berturut turut 3 kali.(jika di desa lain dilaksanakan Calonarang).

Dengan esensi tujuan guna memohon kerahayuan jagat di Legian khususnya dan di Bali pada umumnya serta di Nusantara dan dunia secara global ,terang Jro Penyarikan.

Untuk diketahui Pelawatan sungsungan jagat yg ada di Desa Adat Legian ;
1. Ida Ratu Ayu/Barong
2. Dewa Penamprat /Paksi petila
3. Dewa Rangda
4. Dewa Rarung
Sentral Tempat ; di setra/kuburan ; Pelawatan Paksi Petila,Dewa Rangda,Dewa Rarung, sedangkan Dipura Agung ; Pelawatan Ida Ratu Ayu/Barong.

Lurah ; Putu Eka Martini

Lurah Legian Putu Eka Martini mengungkapkan, ini merupakan pengalaman pertama sejak dirinya definitif menjabat sebagai Lurah di Desa Adat Legian, ritual suci guna mnghidupkan taksu Petapaan Petapaan Suci yang ada di Desa Adat Legian.
Persiapan telah kami dimuali sejak 1 minggu lalu, melibatkan Limas bersinergi dengan desa adat dan juga Polsek Kuta guna pengamanan dalam pelaksanaan upacara tersebut.
Pelayanan kesehatan juga kami berikan kepada prajuru yang terlibat berupa pelayanan kesehatan cek tensi ataupun yang lain bersinergi dengan RS Mitra Teguh Tuban, koordinasi dgn Ketua LPM Desa Adat Legian dan juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Badung terkait arus lalin dan juga dengan PLN guna pemadaman sementara lampu disepanjang jalan yang dilalui, terangnya.

Selaku Lurah Legian dirinya mohon doa restu secara sekala ataupun niakala dumogi pemargi/ semoga perjalanan rahayu saekala dan niakala. Dengan upacara Ngerehan bisa memberikan aura positif, bisa memberikan keseimbangan terhadap Buana Agung dan Bhuana Alit, dan semoga pandemi Civid-19 cepat berakhir, terang Lurah Legian.

Sementara Ketua LPM Desa Adat Legian I Wayan Puspa Negara, SP.,M.Si, Acara ini melibatkan semua warga Desa Adat Legian kurang kebih sebanyak 700 warga ngarep.

Denah penutupan jalan sementara

Untuk itu akan akan ada permakluman bagi warga terkait kondisi beberpa ruas jalan di Legian yang nantinya sedikit terganggu dengan adanya penutupan jalan, pada hari H yakni pada tgl 3 Februari 2022, dari jam jam 20 Wita hingga upacara selesai sekira jam 02.00 Wita (jelang pagi) meliputi Jalan Legian, Jalan Sriwijawa, Jalan Patih Jelantik dan sebagian Jalan Majapahit, disamping akan rekayasa jalan alternatif namun kami harapkan masyarakat pengguna jalan untuk menghindari agar lewat melalui jalan lain pada hari jam tersebut, terang Puspa Negara.

Ketua LPM Legian: I Wayan Puspa Negara,

Pengusaha Muda dan juga Politusi kawakan ini juga meminta permakluman warga karena pada jam tersebut juga akan ada pemadaman listrik sementara dan tidak ada suara musik atau yang menimbulkan suara, agar krama bisa konsentrasi aecara full yang memerlukan kesunyian dan keheningan dalam pelaksanaan kegiatan agar sesuai harapan.
Seperti yang telah dijelaskan kami bersinergi dan koordinasi dengan Kapolselsek juga melibatkan Penrepti Desa Adat Legian(Batu Purba) dan para Pecalang.
Sebuah kegiatan sakral yang silaksanakan sebagai bentuk implemantasi dari pewisik Ida Betara untuk memperkuat daya majestik dari Ida Betara sesuwunan melalui Pertapaan-Pertapaan Bliau yang mampu sebagai pemersatu dan pencipta di Desa Adat Legian.
Dan sebagai momentum penting untuk bangkit dari pandemi, merasakan kesehatan melalui kekuatan yang diberikan sehat lahir dan batin, ungkapnya penuh semangat.
Dalam pelaksanaan upacara akan dilaksanakan secara Prokes ketat. Untuk diketahui seluruh warga Legian telah mengikuti vaksinasi tahap 1 dan 2 dan juga hampir keseluruhan telah mengikuti vaksin Boster terutama para lansia. Desa Adat Legian adalah Green zone Covid-19, melalui Upacara Suci ini diharapkan Gering Agung Covid -19 sirna dari muka bumi, demikian Puspa Negara mengkhiri.
(Gskr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *