Indonesia Dorong Regulasi Platform Digital di ILC

JENEWA,Persindonesia.com – Bukan cuma pidato. Hari ke-8 International Labour Conference ILC Session 114 di Jenewa, Senin 8/6/2026, Indonesia mainkan diplomasi lunak lewat batik dan agenda perlindungan pekerja rentan.

Seluruh delegasi tripartit RI kompak seragam batik di sidang pleno Gedung Tempus PBB. Pekerja, pemerintah, pengusaha satu barisan. Pemandangan ini langsung jadi sorotan delegasi 187 negara. Batik berubah jadi “bahasa diplomasi” Indonesia: identitas kuat, tapi mengajak dialog.

“Batik adalah simbol. Tapi pesan kami lebih dari simbol. Indonesia datang untuk memperjuangkan pekerjaan layak yang adil bagi semua,”ujar sumber delegasi.

Angle paling menonjol hari itu: perlindungan pekerja platform ekonomi digital. Menaker Yassierli tegaskan Indonesia tak mau pekerja ojol, kurir, freelancer jadi korban disrupsi teknologi.

“Indonesia berkomitmen kembangkan kebijakan yang melindungi pekerja di sektor platform ekonomi digital. Tapi kami tolak cara sepihak. Dialog sosial tripartit adalah kuncinya,”tegas Yassierli.

Ketua Delegasi Pekerja Johanes Dartha Pakpahan lebih keras. Ia tolak AI yang dipakai perusahaan untuk PHK diam-diam atau algoritma diskriminatif yang turunkan order pekerja tanpa alasan jelas.

“Algoritma boleh membantu, tetapi manusia harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab. Pekerja platform digital bukan robot. Mereka butuh kepastian upah, jaminan sosial, dan ruang bersuara,” kata Dartha.

Permintaan ini relevan dengan kondisi Indonesia yang punya jutaan pekerja platform. Delegasi RI dorong ILO buat standar global baru agar negara anggota bikin regulasi yang melindungi, bukan membatasi inovasi.

Menaker Yassierli bawa “paket solusi” Indonesia ke forum dunia. Jurus pertama: penguatan pemagangan nasional biar lulusan SMK/sarjana langsung siap kerja. Jurus kedua: pendidikan vokasi link and match dengan industri 4.0 dan green economy. Jurus ketiga: dukungan program Makan Bergizi Gratis MBG untuk cetak SDM sehat dan cerdas jangka panjang.

“Transformasi digital harus naikkan produktivitas, tapi ujungnya kesejahteraan pekerja. Karena itu SDM jadi investasi utama kami,” jelas Yassierli.

Yang bikin beda: suara daerah ikut didengar. H. Dewa Sukma Kelana dari Banten, Sekjen KSPSI Banten sekaligus dosen Unpam Serang, tegaskan hasil ILC jangan mentok di Jenewa.

“Delegasi daerah ada di sini untuk memastikan apa yang diperjuangkan di forum ILO benar-benar turun jadi kebijakan nyata di pabrik, di jalan, di kantor. Pekerja di Cilegon, Tangerang, Serang harus merasakan hasilnya,” kata Dewa Sukma Kelana.

Ia ingatkan sinergi tripartit pemerintah-pekerja-pengusaha harus jalan sampai level daerah. Tujuannya satu: hubungan industrial harmonis dan pekerjaan layak untuk semua.

Secara keseluruhan, Indonesia tampil sebagai penengah. Soal AI, RI dukung inovasi tapi tolak dehumanisasi. Soal konflik global, RI dukung program darurat ILO untuk pekerja Palestina. Soal kebijakan, RI kedepankan dialog bukan konfrontasi.

Dengan semangat “Merah Putih di Dada, Indonesia di Hati”, delegasi tripartit RI menutup hari ke-8 ILC dengan pesan: Indonesia hadir, Indonesia punya solusi, dan Indonesia jaga pekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *