PERSINDONESIA.COM – KISAH INSPIRASI – Di negara Konoha, sudah bukan rahasia lagi jika pejabat yang kompeten tidak laku. Aparat yang berintegritas tidak dibutuhkan. Karena oligarki punya banyak kepentingan, yang hanya butuh pejabat dan aparat yang loyal.
Tak terkecuali di negeri tapai, negeri yang konon terkenal akan keindahan hutan dan gunung Ijen-nya.
Meski hutannya sudah gundul berganti kobis dan kentang, namun pesona dan kekayaannya tetap menjadi data tarik tersendiri. Negeri yang kaya, namun tidak memberi kekayaan bagi rakyatnya.
Disini ada sebuah kisah lama, seorang kawan yang lurus berjuang namun akhirnya dibuang.
Sepak terjangnya seakan momok menakutkan bagi para penggarong uang rakyat. Mulai sekelas kepala desa sampai pejabat tinggi, tak luput dari pedang keadilannya.
Tapi kehadirannya justru dianggap sebagai penganggu, pengusik para penikmat zona nyaman. Tentu membuangnya adalah pilihan terbaik bagi mereka. Tak tanggung-tanggung, dia dibuang ke pulau seberang.
Beruntung, jiwa pejuangnya tak luntur, semangatnya dalam membasmi korupsi tak kendur.
Jauh di pulau seberang sana, sepak terjangnya kembali membawa para koruptor ke balik jeruji. Terhitung ada 7 perkara korupsi yang ditanganinya, beberapa bahkan sudah berkekuatan hukum tetap.
Saya teringat kembali akan kata-kata darinya, “Dimanapun saya ditempatkan, disitu saya akan mengabdi. Fokus saya memang kasus korupsi, karena korupsi sungguh kejahatan yang luar biasa. Mereka yang memakan uang negara, bagai menghisap darah rakyat kecil”.
Semangatnya itu sangat dibutuhkan di negeri tapai. Karena para adhyaksa saat ini seakan istirahat ditempat, meski banyak kasus yang harus segera diselesaikan. Mulai dari kasus kecil tingkat desa, hingga kasus alih fungsi lahan di kawasan Ijen, kasus besar yang mungkin melibatkan oligarki.
Saya dan mungkin sebagian besar warga negeri tapai tentu sangat merindukan sosoknya, merindukan sepak terjang dan keberaniannya. Karena saat ini para penegak keadilan negeri tapai seakan tertidur pulas.
Sepanjang tahun ini, hanya satu-dua kasus kecil yang ditangani. Itupun warisan dari sang pejuang yang terbuang. Tak salah jika kemudian rakyat mulai kehilangan kepercayaannya lagi. Dan tak salah jika kami berharap sang pejuang kembali kesini…
(Geng)






