Objek Wisata Sejarah dan Mistis Palungan Batu Jembrana

Jembrana Januari 2011 – Banjar Palungan Batu berada di wilayah perbukitan pegunungan paling utara di Desa Batuagung Kabupaten Jembrana dan memang menjadi salah satu objek wisata yang sudah dikenal di wilayah Kabupaten Jembrana.

Berbagai tempat yang bisa dikunjungi antara lain, Pura Palungan Batu, Monumen Pejuangan Lembah Merdeka Gelar dan Jembatan Merah Gelar.

Banjar Palungan Batu yang berlokasi paling utara ini bersebelahan dengan hutan lindung, berjarak kurang lebih 7 km dari Kota Negara dengan ketinggian 600 meter diatas laut.

Screenshot 20230509 175839
Pura Palungan Batu

Pura Palungan Batu : Pura ini berada diatas bukit Palungan Batu, didepan pura ada sebuah peninggalan sejarah sebuah palungan dari batu yang mirip dengan sarkopagus, dan dibelakang pura ditemukan sebuah arca keramat Batu Mecaling, dari penemuan –  penemuan tersebut diperkirakan Pura Palungan Batu berdiri pada jaman Bali kuno.

Sarkofagus/Palungan Batu memiliki ukuran lebar: 60 cm, Panjang: 115 cm, dan tebal: 42,5, sedangkan pada bagian cekungannya memiliki ukuran panjang: 70 cm, lebar: 38 cm, kedalaman: 17 cm. terbuat dari bahan batu padas dengan warna abu-abu. Sarkofagus/Palungan Batu berbentuk persegi empat panjang tanpa tutup. Bagian depan dan belakang terdapat pahatan/tonjolan berbentuk persegi empat dan di dalam lubang berisi genangan air hujan. Palungan ini dipercaya sebagai “Kancing Gumi Palungan Batu”.

Screenshot 20230509 175805
Palungan Batu

Sementara di bagian samping kiri pura tersebut ada dua buah batu berornamen caling/taring, berdasarkan perkiraan dan ceritra para sepuh, Batu Mecaling merupakan tempat pemujaan pada jaman berhala, dimungkinkan umurnya lebih tua dari pura itu sendiri (jaman berhala) yang dikenal dengan jaman Denawa atau Mayadenawa.

Foto Batu Mecaling dengan sengaja tidak ditampilkan menghindari akibat dari kemistisan benda berhala tersebut.

Situs ini telah di inventarisasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bali pada tahun 2020 dengan nomer inventarisasi: 3/14-01/STS/24.

Kejadian mistis pernah terjadi ketika dinas Purbakala Kabupaten Jembrana memindahkan sarkopagus/ palungan dari batu tersebut ke Museum Cagar Alam di Bali Barat untuk disimpan dan diselidiki, namun yang terjadi wilayah Palungan Batu dilanda Hujan angin dan petir selama 3 hari, bagai tak terima palungannya diambil, hingga palungan tersebut dikembalikan, kondisi alam Palungan Batu stabil tidak dihujani petir lagi.

Screenshot 20230509 180206
Jembatan Merah Gelar

Berlanjut ke arah menuju hutan lindung yang merupakan bagian dari hutan Jimbarwana (amazonya Bali), terdapat sebuah jembatan berwarna merah, sebagai penghubung antara Banjar Palungan Batu dengan Lingkungan Dewasana Sawe Rangsasa, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana.

Screenshot 20230509 180110
Wisata permandian alami

Jembatan merah ini menjadi daya tarik bagi wisatawan dimana pemandangan alam yang masih alami, air sungai yang jernih sangat cocok bagi pecinta wisata alam, merefress segala kepenatan. Ditempat ini para wisatawan biasanya menikmati suasana keasrian alam dan jernihnya air sungai sangat cocok untuk mandi.

Screenshot 20230509 180313
Monumen Lembah Merdeka

Tak jauh dari areal sungai tersebut berdiri sederhana monumen pergerakan perjuangan rakyat dikenal dengan Monumen Lembah Merdeka, dimana saat pejuang pro kemerdekaan Indonesia yang harus pergi ke Jawa meminta bantuan. Pada April 1946, pasukan pro kemerdekaan Indonesia yang selalu menyerang konvoi-konvoi belanda, mereka memilih Wilayah Gelar di utara Pulungan Batu sebagai markas. Tempat ini dianggap strategis karena memiliki geografis belantara yang sulit ditembus. Sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan sebagai perlindungan.
Di lokasi ini pada 18 april 1946 semua pasukan berkumpul.

Mereka mengibarkan Bendera merah putih untuk pertama kalinya di Bali. banyak perencanaan terkait perjuangan pro kemerdekaan Indonesia di Bali. Daerah ini juga menjadi target serangan dihujani bom oleh pesawat – pesawat tempur Belanda. Beberapa warga menuturkan adanya mata-mata yang membocorkan tempat tersebut, namun pasukan pro kemerdekaan tetap bisa bertahan. Disini juga jalur perjalanan Pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai ketika kembali dari Jawa menuju Margarana. Monumen sederhana namun memiliki makna perjuangan yang besar.

Kelian Banjar Palungan Batu IB Arimbawa ketika dikonfirmasi mengungkapkan semua objek wisata yang ada di wilayah Banjar Palungan Batu ini dikelola langsung oleh adat setempat dan untuk masuk kearealnya tidak dikenakan kontribusi tiket. “Biasanya cukup membayar parkir secara pribadi kepada pemilik tanah, cuman ditekankan untuk menjaga kesopanan di tempat-tempat tersebut. Menimang semua tempat itu sangat disucikan oleh kami sebagai warga adat Banjar Palungan Batu,” ungkap Kadus Arimbawa.

(krg).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *