Ida Bagus Gede Dirga (Owner PT.Suryajaya Tour & Travel dan Dirga Bali tama Transport)
Denpasar Pers Indonesia Group, 19 Agustus 2025 — Lonjakan kunjungan wisatawan ke Bali selama 2024–2025 membawa dampak positif bagi pemulihan pariwisata pascapandemi. Namun, peningkatan jumlah kunjungan ini juga berdampak pada kemacetan lalu lintas di sejumlah kawasan wisata utama, seperti Kuta, Nusa Dua, dan Seminyak. Menyikapi tantangan ini, pelaku pariwisata mulai menerapkan pola perjalanan baru untuk menjaga kenyamanan dan pengalaman wisatawan selama berlibur di Bali.
Salah satu pelaku usaha pariwisata, Ida Bagus Gede Dirga (Gus Dirga), yang juga merupakan pemilik(Owner) PT Surya Jaya Tour & Travel yang merupakan biro perjalanan wisatawan khusus tamu Italia dan Dirga Bali Tama Transport, menjelaskan strategi adaptif yang dilakukan pihaknya guna menghindari kemacetan dan memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. “Kami menyiasati kepadatan lalu lintas dengan mengubah pola penginapan wisatawan. Jika sebelumnya sebagian besar tamu menginap di kawasan Nusa Dua yang aksesnya sering macet, kini kami arahkan mereka untuk menginap di hotel-hotel berbintang di kawasan Ubud atau Bali tengah, yang akses ke destinasi wisata lebih lancar,” ujar Gus Dirga.
Lebih lanjut, Gus Dirga juga menerapkan pendekatan pembagian program wisata berdasarkan zona untuk mengurangi pergerakan jarak jauh dalam satu hari yang rentan terjebak kemacetan. Program wisata dirancang agar perjalanan wisatawan lebih efisien dan terdistribusi merata di berbagai wilayah. “Kami membagi itinerary dalam tiga konsep utama. Pertama, program budaya kami fokuskan selama wisatawan berada di Bali mengenal tradisi lokal, mengunjungi desa adat, hingga menyaksikan tari-tarian khas. Kedua, program wisata bahari kami alihkan ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sebagai opsi alternatif dari pantai-pantai Bali yang mulai padat. Ketiga, untuk hari terakhir, wisatawan kami arahkan kembali ke Bali Selatan seperti Seminyak, Kuta, dan Canggu untuk bersantai dan belanja sebelum kembali,” jelasnya.
Menurut Gus Dirga, pendekatan ini bukan hanya menjadi solusi sementara atas kemacetan, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera mengambil kebijakan yang nyata dan berdampak langsung dalam mengurangi kemacetan, Kebijakan tersebut harus mencakup penataan zonasi wisata, pembangunan jalan yang efektif, Tanpa langkah konkret dari pemerintah, menurutnya, upaya menjaga kualitas dan keberlanjutan pariwisata Bali akan sulit tercapai. “Kami ingin wisatawan tetap datang, tetapi tidak merasa stres karena macet. Karena itu, sebagai pelaku usaha, kami perlu berinovasi dan pemerintah perlu hadir dengan solusi jangka panjang,”.
Diluar Bali untuk budaya kami tonjolkan Yogyakarta dan Tanah Toraja di Sulawesi
Wisata Bahari yang memiliki pantai yang sangat indah seperti kepulauan Gili, Pulau Seraya Labuan Bajo, Sumba dan Sumbawa. Program adventure seperti Pulau Komodo, Borneo, Raja Ampat Dan Pulau Lembeh di Menado, demikian tutup Gus Dirga.

PT Dirgabali Tour & Travel merupakan biro perjalanan wisata yang secara khusus memberikan pelayanan wisata kepada tamu-tamu dari Italia, dengan memberikan servis yang profesiaonal termasuk memiliki tim Guide/pramuwisata profesional khusus berbahasa Italia, dan para draiver yang berpengalaman.

Sebelumnya, berdasarkan data BPS Bali, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dari Januari hingga Mei 2025 telah mencapai 2,64 juta orang, naik 13,65 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan target tahunan 6,5 juta kunjungan, tekanan terhadap infrastruktur wisata diperkirakan terus meningkat.
Kondisi semakin diperparah, ketika proyek-proyek jalan dikerjakan pada saat high sesion kunjungn wisata, menambah kemacetan jalan, kendati untuk mengejar target penyerahan yang harus di akhir tahun.
(@Gus Krg)






