AA.Gd.Widiada (Pengelingair Puri Peguyangan)
BALI, Persindonesia.com – Momentum Hari Raya Suci Kuningan yang bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dimanfaatkan Pengelingsir Puri Peguyangan, Anak Agung Gede Widiada, untuk mengajak masyarakat memperkuat ketahanan keluarga melalui peran aktif seorang ayah.
Dalam pesannya, Anak Agung Gede Widiada menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Kuningan kepada umat Hindu seraya berharap perayaan suci tersebut membawa kekuatan lahir dan batin, kebijaksanaan, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Agung Widiada juga mengajak masyarakat menyambut Harganas ke-33 dengan mengimplementasikan semangat “Ayah Wajib Hadir”, sebagai bentuk penguatan peran ayah dalam kehidupan keluarga.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Hari Raya Kuningan selaras dengan upaya membangun keluarga yang harmonis. Kuningan mengajarkan pentingnya menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan agar senantiasa berada di jalan kebajikan. Nilai tersebut dinilai menjadi fondasi dalam membangun rumah tangga yang damai dan penuh kasih sayang.
Ditgaskan kehadiran ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga harus hadir sebagai pembimbing, pelindung, pendidik, sekaligus teladan bagi anak-anak.
“Kehadiran ayah yang penuh perhatian dan tanggung jawab akan melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujarnya.
Keluarga yang rukun dan harmonis menjadi pondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera. Karena itu, ia mengingatkan agar kesibukan pekerjaan tidak mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga.
Melalui peringatan Hari Raya Kuningan dan Harganas ke-33, masyarakat diajak membangun komunikasi yang hangat di lingkungan keluarga serta terus menanamkan nilai-nilai budaya, agama, dan kearifan lokal kepada generasi penerus.
Di akhir pesannya, Anak Agung Gede Widiada berharap semangat Kuningan dan Harganas dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat peran keluarga sebagai pilar utama pembangunan bangsa, sekaligus menjaga kelestarian budaya Bali yang diwariskan para leluhur.
(Gus Karang)





