Persindonesia.com, Denpasar – Bali kembali membuktikan diri sebagai destinasi sport tourism kelas dunia, seiring dengan digelarnya ajang internasional Red Bull Cliff Diving World Series 2026 di Broken Beach, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pada 21-23 Mei 2026.
Dinas Pariwisata (Dispar) Bali menyebut kompetisi loncat tebing akrobatik internasional tersebut bukan sekadar tontonan olahraga ekstrem, melainkan bagian dari transformasi pariwisata Bali dari konsep mass tourism menuju quality tourism yang lebih berkelanjutan dan bernilai tinggi.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Bali, A.A. Made Anggia Widana, mengatakan sport tourism menjadi salah satu arah strategis pengembangan pariwisata Bali agar wisatawan tidak hanya datang menikmati pantai dan hiburan, tetapi juga menyaksikan event olahraga internasional bergengsi.
“Dengan sport tourism ini kami berharap Bali mulai bergeser menjadi quality tourism. Ketika kegiatan sport tourism semakin banyak di Bali, dunia akan semakin mengenal Bali tidak hanya dari Bali Selatan saja, tetapi juga potensi olahraga dan wisata lainnya,” ujarnya, Jumat (22/5).
Lomba Fashion Show Bulan Bung Karno 2026 Tampilkan Kreativitas Busana Bernuansa Budaya Bali
Menurut Anggia Widana, penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving World Series 2026 sejalan dengan visi pembangunan pariwisata Bali yang berkualitas, berbudaya, dan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Bali pun mengapresiasi keputusan penyelenggara yang memilih Bali, khususnya Nusa Penida, sebagai salah satu lokasi kompetisi dunia tersebut.
Ia menilai Broken Beach atau Pasih Uug memiliki karakter alam yang unik dan dramatis sehingga layak menjadi panggung olahraga ekstrem internasional. Tebing kapur berlubang alami yang menghadap langsung ke Samudera Hindia itu menawarkan kombinasi panorama spektakuler dan tantangan ekstrem yang jarang dimiliki destinasi lain di dunia.
Dikatakan, selain memperkenalkan keindahan alam Bali, penyelenggara ini juga memasukkan unsur budaya lokal dalam rangkaian kegiatan. Anggiawidana mengatakan budaya Bali diperkenalkan kepada atlet internasional melalui permainan tradisional hingga penggunaan kipas tari Bali sebagai penanda giliran atlet melakukan diving.
“Tidak hanya alam Bali yang indah, tetapi budaya Bali juga diperkenalkan kepada atlet-atlet internasional,” katanya.
Tambak Udang Vaname di Candikusuma Disidak, Diduga Belum Kantongi Izin Lengkap
Penyelenggaraan event internasional tersebut turut mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk TNI Angkatan Laut yang membantu pengamanan kawasan laut terbuka di sekitar Broken Beach. Dukungan tersebut difokuskan pada aspek keselamatan dan keamanan atlet maupun panitia mengingat perairan Nusa Penida dikenal memiliki arus kuat dan gelombang tinggi.
Di sisi lain, masyarakat lokal mulai melihat peluang ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan selama pelaksanaan event. Penginapan, restoran, operator kapal cepat, pemandu wisata, hingga pelaku UMKM diperkirakan akan merasakan dampak positif dari penyelenggaraan ajang dunia tersebut.
Eksposur internasional melalui siaran global Red Bull Cliff Diving juga diyakini akan semakin memperkuat posisi Nusa Penida sebagai destinasi wisata unggulan Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan itu berkembang pesat menjadi tujuan wisata dunia berkat popularitas destinasi seperti Kelingking Beach, Angel’s Billabong, dan Broken Beach.
Pihaknya berharap keberhasilan penyelenggaraan Red Bull Cliff Diving World Series 2026 dapat membuka peluang bagi Bali untuk kembali menjadi tuan rumah berbagai event olahraga internasional lainnya di masa mendatang.
Pemkab Bangli Pastikan Penataan Kabel Sembrawut Tuntas Akhir Tahun 2026
“Harapannya tentu akan ada kegiatan internasional lainnya yang bisa mengalihkan pandangan dunia bahwa Bali tidak hanya untuk berwisata, tetapi juga cocok untuk aktivitas olahraga kelas dunia,” ujar Anggiawidana.
Sebanyak 24 atlet terbaik dunia, terdiri atas 12 atlet perempuan dan 12 atlet laki-laki, berlaga dalam kompetisi yang menjadi pencapaian bersejarah bagi Pulau Dewata tersebut. Pada ajang itu, atlet perempuan melompat dari ketinggian 21 meter, sedangkan atlet laki-laki dari ketinggian 27 meter dengan kecepatan masuk ke air mencapai sekitar 85 kilometer per jam. (*)






