Persindonesia.com, Denpasar – Aroma santan dan adonan beras yang dipanggang di atas tungku menyambut siapa pun yang memasuki Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
Di salah satu sudut sentra kuliner desa, laklak hangat tersaji dengan taburan kelapa parut dan guyuran gula merah cair. Sajian sederhana itu kini bukan lagi sekadar makanan tradisional warga desa, melainkan pintu masuk lahirnya wajah baru Desa Wisata Tajen.
Beberapa tahun lalu, Tajen hanyalah satu dari banyak desa di kawasan Penebel yang hidup tenang di tengah hamparan sawah. Namun di balik suasana desa yang asri itu, masyarakat mulai memikirkan cara agar desa mereka tidak hanya dikenal sebagai wilayah pertanian, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi sendiri berbasis potensi lokal.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan, desa wisata ini menyuguhkan kuliner unik, sehingga sangat sayang untuk dilewatkan.
“Desa Wisata Tajen ini menyuguhkan laklak yang merupakan jajanan tradisional yang sudah terkenal,” katanya.
Balik Nama Sertipikat Tanah Hibah Kini Lebih Mudah, ATR/BPN Ingatkan Pentingnya Cek Status Tanah
Sementara itu, Perbekel Desa Tajen I Gusti Made Sukerta mengenang gagasan desa wisata sebenarnya sudah mulai dirintis sejak 2017. Saat itu masyarakat membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang kemudian mengusulkan Tajen menjadi desa wisata ke Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan.
“Waktu itu anggota Pokdarwis sekitar 20 orang. Setelah diusulkan, akhirnya Tajen mendapat SK Desa Wisata pada tahun 2017,” ujarnya.
Namun perjalanan tidak berjalan mulus. Pandemi COVID-19 membuat aktivitas wisata praktis berhenti total. Program desa wisata yang mulai tumbuh perlahan terpaksa vakum hampir dua tahun.
Ketika terpilih menjadi perbekel pada awal 2022, Sukerta mencoba menghidupkan kembali mimpi yang sempat tertunda itu. Ia mulai mengumpulkan warga Tajen yang bekerja di sektor pariwisata, mulai dari sopir freelance, pemandu wisata, pekerja hotel hingga kru kapal pesiar.
Mereka duduk bersama mencari satu hal yang paling mungkin dikembangkan dari desa kecil tersebut. Jawabannya ternyata datang dari makanan tradisional yang sudah lama akrab dengan kehidupan warga: laklak Tajen. “Yang paling cepat bisa dikembangkan ternyata wisata kuliner. Kami punya laklak Tajen yang memang sudah cukup dikenal,” katanya.
Dari satu jenis makanan tradisional itu, geliat ekonomi desa mulai bergerak. Pemerintah desa kemudian menyewa lahan khusus untuk dijadikan sentra kuliner UMKM. Enam lapak disediakan gratis untuk warga yang ingin berjualan.
Menariknya, setiap pedagang memiliki jenis dagangan berbeda agar tidak saling bersaing langsung. Ada yang khusus menjual laklak, minuman tradisional, jajanan khas Bali hingga makanan umum lainnya. “Jadi semua punya ruang masing-masing. Tidak saling rebut dagangan,” ujar Sukerta.
Kini kawasan kuliner tersebut ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana desa sambil mencicipi makanan tradisional. Laklak yang dulu hanya dibuat untuk konsumsi harian warga, perlahan berubah menjadi identitas wisata Desa Tajen.
Namun Tajen rupanya tidak ingin berhenti di dapur dan jajanan tradisional saja. Desa itu mulai merancang konsep wisata yang lebih luas, yakni wisata tinggal bersama warga melalui homestay dan guest house berbasis masyarakat.
Rumah Tinggal Berstatus HGB, Saatnya Beralih ke SHM untuk Kepastian Hukum
Melalui kerja sama dengan lembaga School International Training (SIT), Desa Tajen rutin menerima mahasiswa asal Amerika Serikat yang datang untuk belajar budaya dan kehidupan masyarakat Bali secara langsung.
Para mahasiswa itu tinggal di rumah-rumah warga, mengikuti aktivitas harian masyarakat desa, hingga belajar mengenal tradisi Bali dari dekat. “Biasanya setahun ada tiga grup dari Amerika datang. Mereka tinggal di homestay milik warga,” kata Sukerta.
Pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan pun bukan wisata instan ala perkotaan. Wisatawan diajak masuk ke ritme kehidupan masyarakat desa.
Saat pagi, mereka bisa ikut membuat jamu tradisional atau belajar memasak makanan Bali. Di waktu tertentu, wisatawan mengikuti yoga di tengah sawah, terapi tradisional, hingga ritual malukat.
Yang paling diminati adalah trekking sawah. Dalam paket wisata itu, wisatawan tidak sekadar berjalan menikmati pemandangan, tetapi benar-benar ikut turun ke sawah bersama petani.
Pemkab Jembrana Perkuat Digitalisasi untuk Dongkrak PAD Tanpa Bebani Masyarakat
Mereka belajar membajak, menanam padi, hingga memanen secara tradisional sesuai musim yang sedang berlangsung. “Kalau datang saat musim tanam ya ikut menanam padi. Kalau musim panen, mereka ikut panen,” ujarnya.
Bagi wisatawan asing, pengalaman tinggal dan belajar kehidupan desa tersebut dipatok sekitar Rp1,2 juta untuk paket dua malam hingga empat hari, termasuk penginapan dan berbagai aktivitas budaya.
Seluruh pengelolaan usaha wisata itu diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini BUMDes Tajen mengelola empat unit usaha, yakni simpan pinjam, pengelolaan sampah, PAMDes, dan desa wisata.
Di tengah derasnya pembangunan pariwisata modern Bali, Tajen memilih jalan berbeda. Desa ini tidak membangun atraksi mewah atau fasilitas besar-besaran. Mereka justru memulai semuanya dari dapur warga, dari sawah, dari tradisi yang selama ini hidup sederhana di tengah masyarakat. (*)






