Tradisi Ngaben Susuri Laut di Nusa Penida

Persindonesia.com, Denpasar – Di banyak wilayah Bali, prosesi ngaben lazimnya berakhir di setra desa adat, yakni di tanah lapang. Namun di sejumlah desa pesisir Nusa Penida, jalan menuju pelepasan terakhir itu berbeda. Laut menjadi bagian dari perjalanan suci.

Di pulau yang dikelilingi tebing karst dan ombak Samudra Hindia tersebut, masyarakat adat masih mempertahankan tradisi ngaben menyusuri pesisir pantai sebelum prosesi pembakaran dilakukan.

Bade dan sarana upacara diusung perlahan melewati pasir putih, batu karang, hingga bibir laut yang kadang diterpa ombak pasang. Di balik pemandangan yang tampak dramatis itu, tersimpan keyakinan spiritual yang telah hidup selama ratusan tahun.

Tim Jalak Nusa Berhasil Sibak Kabar Hilangnya Puluhan Tukik di Pantai Bias Muntig

Bagi masyarakat setempat, laut bukan sekadar bentang alam. Laut dipercaya sebagai sumber kehidupan sekaligus tempat penyucian terakhir sebelum roh kembali menuju alam niskala. Karena itulah prosesi menyusuri laut dilakukan dengan penuh penghormatan, diiringi doa-doa dan kidung suci yang menggema di antara debur ombak.

Di Desa Adat Karangsari, tradisi tersebut masih dijaga dengan kuat. Saat upacara berlangsung, puluhan warga tampak bergotong royong memikul bade bersama-sama.

Langkah mereka harus menyesuaikan kondisi alam. Ketika ombak mulai naik dan air laut menyapu jalur prosesi, iring-iringan berjalan lebih perlahan. Tidak ada kepanikan ataupun keluhan. Semua dijalani dengan tenang sebagai bagian dari yadnya.

Desa Wisata Blangsinga Pilihan Tepat Menikmati Suasana Bali

Pemandangan itu menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tempat lain. Di satu sisi terlihat tebing-tebing karst menjulang kokoh, sementara di sisi lain hamparan laut biru kehijauan memantulkan cahaya matahari. Perahu-perahu nelayan yang berlabuh di kejauhan seolah menjadi saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat pulau itu.

Prosesi ngaben menyusuri laut juga memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan warga banjar. Seluruh tahapan upacara dilakukan secara gotong royong, mulai dari membuat banten, menyiapkan sarana upacara, hingga mengangkat bade menuju lokasi ritual.

Tidak ada pekerjaan yang dianggap ringan ataupun berat karena semuanya dilakukan sebagai bentuk bakti kepada leluhur.

Laklak Hangat di Homestay Desa Tajen Wajib Dikunjungi

Tradisi tersebut tetap bertahan di tengah perubahan besar yang terjadi di Nusa Penida dalam satu dekade terakhir. Upacara ngaben tidak dijadikan pertunjukan wisata. Prosesi tetap dilaksanakan sebagai kewajiban spiritual yang dijalankan dengan tata krama adat.

Wisatawan yang kebetulan menyaksikan prosesi umumnya hanya diperbolehkan melihat dari kejauhan. Masyarakat adat berharap siapa pun yang datang dapat menghormati jalannya upacara dan menjaga kesucian suasana.

Bagi warga Nusa Penida, laut bukan sekadar jalur yang dilalui manusia. Laut adalah ruang suci tempat pelepasan terakhir dilakukan. Debur ombak dipercaya membawa doa dan harapan agar roh leluhur dapat kembali dengan damai menuju asalnya.

Pelaku Pencurian Motor Warga Batur Tengah Terciduk Polsek Kintamani di Banyuwangi

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan, di tengah modernisasi dan arus pariwisata yang terus berkembang, tradisi ngaben menyusuri laut menjadi penanda bahwa kehidupan masyarakat Nusa Penida masih berpijak kuat pada adat, spiritualitas, dan hubungan harmonis dengan alam.

Sebuah warisan budaya yang tidak hanya hidup dalam upacara, tetapi juga dalam cara masyarakat menjaga makna di balik setiap ritualnya.  (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *