Harga Oli Melonjak hingga 50 Persen, Penjualan Toko Onderdil di Jembrana Merosot

Melonjaknya harga Oli dan spare part kendaraan di Kabupaten Jembrana berdampak pada kenaikan harga bahan pokok

Jembrana – Kenaikan harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor dalam dua hingga tiga bulan terakhir mulai dirasakan pelaku usaha spare part di Kabupaten Jembrana. Selain dipicu menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat, terbatasnya pasokan barang impor juga disebut menjadi faktor yang menyebabkan harga terus merangkak naik dan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

Saat dikonfirmasi, Pemilik Toko Garuda Mas, Roy yang merupakan toko spare part mobil di Kabupaten Jembrana mengatakan kenaikan harga paling signifikan terjadi pada produk oli. Menurutnya, harga oli mengalami kenaikan antara 30 hingga 50 persen, tergantung merek dan jenis produk.

“Kenaikan yang paling terasa ada pada oli. Ada yang naik 25 persen, 30 persen, bahkan lebih dari itu. Dampaknya sangat besar,” ujarnya, Rabu (10/6).

Selain faktor nilai tukar dolar, Roy menilai kebijakan pembatasan impor turut memengaruhi harga spare part di pasaran. Berkurangnya pasokan membuat sejumlah barang menjadi langka sehingga distributor maupun pemasok menaikkan harga jual.

Alami Slip Saat Menanjak di Jalan Raya Kedisan, Mobil Ford Hitam Metalik Masuk Jurang

“Saya mendapat informasi dari importir bahwa pembatasan impor membuat barang menjadi langka. Ketika barang langka, harga jadi naik karena pasokan terbatas. Padahal kenyataannya kita masih sangat bergantung pada barang impor,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Roy, telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Menurutnya, fenomena kenaikan harga saat ini menjadi salah satu yang terberat selama ia menjalankan usaha spare part di Bali selama 25 tahun.

Dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga mengubah pola belanja konsumen. Jika sebelumnya pelanggan cenderung memilih produk berkualitas terbaik, kini banyak yang beralih ke produk dengan harga lebih murah.

“Biasanya orang Bali selalu mencari barang yang terbaik. Sekarang ketika ditawarkan barang asli dan berkualitas, mereka justru bertanya apakah ada yang lebih murah. Walaupun sudah dijelaskan daya tahannya tidak lama, mereka tetap memilih yang penting kendaraan bisa digunakan hari ini,” ungkapnya.

Ketua DPRD Badung Dorong Tindak Lanjut Cepat Temuan BPK Usai Raih Opini WTP

Selain itu, masyarakat juga lebih memilih memperbaiki komponen yang rusak dibanding langsung menggantinya dengan yang baru. Akibatnya, omzet penjualan toko mengalami penurunan cukup signifikan. “Pendapatan menurun drastis. Ini sudah berlangsung sekitar dua sampai tiga bulan terakhir,” tambahnya.

Hal senada disampaikan pemilik Toko Eka Jaya, Eka yang merupakan toko spare part sepeda motor di Kabupaten Jembrana. Ia menyebut kenaikan harga oli terjadi hingga tiga kali dalam beberapa bulan terakhir dengan kenaikan mencapai Rp10.000 hingga Rp12.000 per botol.

“Harga oli sudah naik tiga kali. Kenaikannya sekitar Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per botol. Untuk spare part juga ada kenaikan, tetapi tidak sebesar oli,” katanya.

Menurut Eka, kenaikan harga oli dipicu oleh naiknya harga bahan baku impor seperti base oil atau bahan dasar oli serta bahan plastik untuk kemasan botol. Selain itu, fluktuasi nilai tukar dolar juga turut memengaruhi biaya produksi.

Sidang Panitia A di Desa Bakbakan Perkuat Validasi Data Pertanahan dan Kepastian Hukum Masyarakat

“Base oil dan bahan baku plastik sebagian besar impor. Karena itu ketika dolar naik, harga oli ikut terdorong naik,” jelasnya.

Ia bahkan mengaku telah menerima informasi dari distributor bahwa harga oli berpotensi kembali mengalami kenaikan pada pertengahan Juni ini.

“Informasinya sekitar tanggal 15 sampai 17 Juni harga oli akan naik lagi,” ujarnya.

Sementara itu, kenaikan harga spare part dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi dan transportasi. Meski tidak setinggi oli, hampir seluruh jenis spare part, termasuk aki dan ban, mengalami penyesuaian harga.

Sasar Desa Sakti dan Batukandik, Kantor Pertanahan Klungkung Gelar Sidang Panitia A

Eka mengatakan lonjakan harga tersebut berdampak langsung terhadap penjualan. Menurutnya, daya beli masyarakat menurun sehingga volume penjualan mengalami penurunan cukup tajam.

“Penjualan jelas terpengaruh. Setelah harga-harga naik, penjualan jauh merosot dibanding sebelumnya,” pungkasnya. TS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *