Belum Genap 3 Bulan Diurug, Sayap Jembatan Penyaringan Jebol Kembali

Persindonesia.com Jembrana – Keduakalinya warga Desa Penyaringan yang bertempat di sebelah barat jembatan kembali terisolir lantaran Sayap Jembatan disebelah barat kembali jebol akibat banjir bandang di Sungai Bilukpoh. Sebelumnya saat banjir bandang tahun lalu jembatan tersebut  jebol dan memakan korban jiwa.

Diketahui genap 3 bulan Sayap jembatan yang jebol tersebut sudah diurug oleh warga secara swadaya sehingga jembatan bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat, lantaran hujan deras di hutan Penyaringan menyebabkan volume air kembali membesar. Kendati banjir bah kembali membesar, beruntung banjir tidak membawa material (kayu) dari hutan sehingga jembatan Bilukpoh aman dari banjir.

Wajib Tahu, Kinerja Peran Pendamping Sosial Kunci Keberhasilan Program Kementerian Sosial RI

Putusnya satu-satunya jembatan penghubung Kelurahan Tegalcangkring dengan Desa Penyaringan, menyebabkan kembali warga Desa Penyaringan untuk yang ada di sebalh barat jembatan terisolir. Akses jalan tersebut dipergunakan warga untuk kegiatan keagamaan lantaran setra (kuburan) dan juga Pura Kahyangan Tiga berada di sebelah barat jembatan, selain itu sekolah juga kebanyakan berada di sebelah barat jembatan.

Perebekel Penyaringan I Made Dresta saat dikonfirmasi awak media mengatakan, sayap jembatan yang jebol tersebut sebelumnya setiap hari diurug oleh warga secara swadaya agar bisa dilalui. “Jembatan ini satu-satunya jembatan yang menghubung warga Desa Penyaringan yang berada di sebelah barat sungai. Ya sekarang sudah jebol jadi kami hanya bisa menunggu bantuan dari pemerintah agar jembatan ini di perbaiki secara permanen,” terangnya. Minggu (12/2/2023).

Air Sungai Gelar Meluap, Jembatan Merah Aman Terkendali

Sayap jembatan tersebut, lanjut Dresta, mulai dikikis air sekira pukul 18.00 wita saat hujan lebat dan air sundah membesar. Sekira pukul 01.00 wita esoknya sayap jembatan yang diurug tersebut sudah jebol. “Sekarang tidak ada harapan lagi, untuk urug lagi sudah tidak bisa lantaran badan sungai sudah membesar, sehingga kelihatan badan jembatan lebih pendek keliahatan. Pada hal saat pembuatan dulu sudah pas dengan badan sungai,” ujarnya.

Dresta berharap, pada saat perbaikan nanti supaya jembatan tersebut dibangun secara permanen sehingga warga Desa Penyaringan yang tinggal di barat sungai bisa melewati jembatan tersebut. “Tadi kami sudah rapat dengan para tokoh desa dan hasilnya mereka tidak mampu lagi untuk mengurug secara swadaya. Intinya kami meminta kepada pemerintah agar dibuatkan permanen. Akses jalan ini merupakan akses Pura Kahyangan Tiga, akses untuk murid sekolah dan akses ke setra (kuburan),” jelasnya.

Polemik Kerjasama Dengan Media, Pejabat Humas DPRD Depok Buat Peraturan Dilanggar Sendiri

Sementara salah satu warga bernama I Putu Budiartawan 50 tahun asal Banjar Tibu Tanggang, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo mengatakan, dirinya sebelumnya berangkat ke pasar melewati jalan utama, di pulangnya dirinya bermagsud melewati jalan pntas dijembatan tersebut, akan tetapi dirinya balik lagi lantaran jembatannya jebol lagi.

“Saya tidak tahu sayap jembatan yang jebol sebelumnya dan diurug oleh warga jebol lagi, sehingga saya kembali ke jalan utama untuk pulang jadinya menempuh semakin jauh. Saya berharap jika nanti diperbaiki agar jembatan ini di perpanjang sehingga saat banjir besar datang tidak akan jebol lagi. Ini merupakan satu-satunya akses jalan yang ada disini,” tutupnya. Vlo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *