Prof. Dasi Astawa: “Banjir di Bali Adalah Peringatan Alam, Saatnya Kita Kontemplasi dan Bertindak Tegas”

Denpasar persindonesia.com – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bali dalam beberapa hari terakhir mengundang keprihatinan mendalam dari berbagai tokoh masyarakat, termasuk akademisi dan budayawan Bali, Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa, M.Si, Melalui sebuah pernyataan reflektif, Prof. Dasi Astawa menyampaikan seruan spiritual, moral, dan kebijakan kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah, sebagai respons atas bencana yang dinilainya sebagai “murkanya alam Bali.”

“Selamat pagi semeton. Kita, semeton Bali, wajib melakukan kontemplasi atas peristiwa banjir yang terjadi belakangan ini. Bencana ini benar-benar tidak pernah terbayangkan sedahsyat itu. Ini saatnya kita merenung, bukan hanya pada level sekala (fisik), tapi juga niskala (spiritual),” tutur Prof. Dasi Astawa dalam pesannya yang juga diunggah di kanal YouTube pribadinya.

Doa dan Empati untuk Korban : Dalam pesannya, Dasi Astawa menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga korban yang kehilangan nyawa maupun harta benda akibat banjir. Ia mengucapkan amor ring acintya bagi para korban jiwa, sembari berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.   “Kami turut prihatin atas kerusakan dan kerugian yang dialami masyarakat. Semoga negara dan pemerintah daerah hadir secara nyata, tidak hanya dengan simpati, tapi dengan aksi konkret dan program prioritas yang tidak ditunda-tunda lagi,” ucapnya.

Saatnya Introspeksi, Bukan Saling Menyalahkan, Lebih lanjut, Dasi Astawa mengajak seluruh komponen masyarakat Bali untuk melakukan introspeksi kolektif, bukan saling tuding atau menyalahkan.  “Sudah saatnya kita nyelisik bulu – merenung mendalam. Mengapa alam Bali murka? Di mana letak kesalahan kita selama ini? Mari kita cari jawabannya secara sekala-niskala, agar tidak terjadi lagi bencana serupa di masa depan,” katanya penuh makna.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, energi tidak boleh dihabiskan untuk saling menyalahkan. Justru masing-masing pihak harus menemukan solusi, mengantisipasi masalah secara bijak tanpa menciptakan konflik baru.

Seruan Tegas kepada Pemerintah Daerah,  Salah satu bagian paling tajam dari penuturannya adalah pesan keras kepada pemerintah daerah dan para pengambil kebijakan. Ia meminta agar hukum ditegakkan secara konsisten, berkomitmen, dan berkelanjutan (3K).  “Tegakkan saja hukum dengan semangat seperti saat kampanye Pileg dan Pilkada. Itu semangat luar biasa dasyatnya. Lanjutkan semangat itu dengan satya wacana dan lascarya, berdiri tegak di atas hukum karmapala,” tegas Dasi Astawa.

Fakta Penyebab Banjir: Jangan Abaikan Realitas, Prof. Dasi Astawa juga memaparkan enam fakta penyebab banjir, antara lain:  Hujan ekstrem lebih dari 24 jam akibat perubahan iklim global, Berkurangnya lahan resapan, khususnya di wilayah perkotaan, Pembangunan di daerah hulu menyebabkan volume air melimpah ke hilir, Drainase yang kecil dan tidak terawat, banyak tersumbat sampah dan lumpur, Manajemen drainase yang lemah, tidak berkelanjutan, Penyempitan daerah aliran sungai (DAS) karena kepentingan bisnis atau pribadi.   “Jangan sampai aliran sungai dipersempit demi kepentingan pragmatis. Kembalikan DAS ke bentuk naturalnya. Jangan hancurkan kepentingan alam Bali sekala-niskala,” tegasnya.

Kita Belum Sukses Bangun Bali, Sebagai penutup, Prof. Dasi Astawa mengingatkan bahwa jika tidak ada tindakan nyata dari sekarang, bencana serupa bahkan yang lebih parah akan terjadi di masa mendatang. “Jangan saling menyalahkan. Jangan merasa paling bisa. Bencana ini bukti nyata bahwa kita belum berhasil membangun Bali. Semoga kita tidak berada di jalan sesat tanpa akal sehat, sok hebat, sok kuat, sementara faktanya kita sekarat. Swaha,” pungkasnya.

 

Berikut penuturan lengkap Prof. Dasi Astawa :

1. Turut berdukacita bagi semeton kita yang menjadi korban sampai kehilangan nyawa-amor ing acintya, dan smg keluarga diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan.
2. ⁠Bagi keluarga terkena musibah dan kehilangan atau kerusakan harta benda kami ikut prihatin dan smg NEGARA dan PEMERINTAH DAERAH HADIR dan secepatnya merencanakan program prioritas mengatasi masalah banjir ini sbg program urgen tak ditunda-tunda lagi.
3. ⁠Sebagai semeton Bali sdh sepatutnya kita “nyelisik bulu” merenung mendalam untuk mencari jawaban mengapa alam Bali ini “MURKA” dan dimana kekeliruan kita selama ini ? Mari kita cari jawaban secara “niskala dan sekala”. Agar tidak terulang lagi bencana ini di masa akan datang.
4. ⁠Tentu pada kondisi seperti ini tidak perlu SALING MENYALAHKAN kepada siapapun tetapi mari kita masing-masing introspeksi agar ketemu SOLUSI shg berbagai masalah krusial seperti bencana ini dapat kita antisipasi tanpa menimbulkan masalah baru.
5. ⁠Pemerintah daerah, terutama para penentu pengambil kebijakan TEGAKKAN SAJA aturan hukum dengan tegas dan penuh SEMANGAT serta GIGIH dan TIADA HENTI, persis seperti SEMANGATNYA saat KAMPANYE baik PILEG maupun PILKADA. Itu semangat luar biasa dasyatnya dan lanjutkan semangat itu dg basis 3-K : KONSISTEN, KOMITMEN dan KONTINU atas dasar satya wacana dan lascarya serta berdiri tegak di atas HUKUM KARMAPALA.

CATATAN FAKTA PENYEBAB BANJIR. INI DIA :

1. Hujan lebat tak henti lebih dari 24 jam. Itu akan terjadi lg di masa depan dan mungkin lbh besar dan lama krn faktor perubahan iklim-climate change.
2. ⁠Lahan resapan semakin berkurang terutama di daerah perkotaan. Ini terjadi tdk hanya di Bali, dimana-mana seperti itu problema kota.
3. ⁠Di daerah hulu dan dataran tinggi, terutama di desa tertentu, telah banyak bangunan shg menyumbang aliran air hujan tak bisa tertampung oleh sungai shg meluap, dan terutama di daerah hilir semakin besar volumnya.
4. ⁠Saluran air, selokan-got atau DRAINASE relatif kecil dan kurang terpelihara secara rutin dan kontinu shg disamping tidak mampu menampung air hujan, juga banyak disfungsional, mampet, tertutup sampah dan endapan lumpur secara berlarut-larut tak terpelihara dg baik. MANAJEMEN BELUM OPTIMAL.
5. ⁠Tanpa perlu MENYALAHKAN SIAPAPUN krn toh juga sdh terjadi bencana ini, MEMANG patut di akui MANAJEMEN DRAINASE KITA RELATIF “buruk”. Kita hanya pintar membangun-membuat tetapi belum cakap memelihara. Entah dimana titik beku dan tersumbat manajemen tsb.
6. ⁠Mohon agar aliran SUNGAI jngn sampai dipersempit akibat kepentingan individual atau bisnis. Kembalikan seperti semula daerah aliran sungai-DAS. Natural sj dan jngn kepentingan pragmatis kalahkan dan hancurkan kepentingan alam Bali sekala-niskala.

KESIMPULAN:
1. Jika tdk diantisipasi penyebab banjir di masa depan, pasti lbh dasyat lg, walau kita tdk berharap, sebab LAHAN RESAPAN BERKURANG TERUS dan manusia terus bertambah, berarti butuh ruang hunian lbh luas.
2. ⁠Di hulu pembangunan pasti tdk bisa dihentikan krn kebutuhan dan akan terjadi tertutup lahan kosong atau kebun secara masiv dan sistematis. Itu kebutuhan realistis dan sulit dibendung oleh siapapun.
3. ⁠Mari pikirkan BERSAMA KITA SELESAIKAN, jngn arogan, dan jngn merasa paling bisa, tanpa melibatkan rakyat dlm pembangunan.
4. ⁠Semua BANSOS kita fokuskan untuk menjaga dan antisipasi air hujan dan kemungkinan bencana lain agar daerah kita terhindar dari bencana.
5. ⁠Jangan saling menyalahkan dan jngn merasa paling bisa dan paling hebat. Bencana ini bukti nyata, kita semua BELUM BERHASIL MEMBANGUN BALI dan smg kita tdk berada di “jalan sesat tanpa akal sehat, sok hebat, sok kuat, fakta kita sekarat”. Swaha.@INDASTA@

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *