PersIndonesia.Com,Bangli- Fenomena semburan belerang kembali terjadi di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Semburan belerang pertama kali terpantau diwilayah Sekeda hingga meluas ke sejumlah wilayah perairan di Danau Batur dengan warna air keputihan dan aroma yang menyengat.
Diprediksi fenomina semburan belerang dan overtrum (massa air di dasar perairan naik ke permukaan) terjadi pada puncak musim penghujan yakni bulan Januari hingga Februari dan pada puncak musim dingin berkisar dibulan Juni sampai dengan September.
Baca Juga : Penerimaan Siswa SMA/SMK di Bangli Belum Maksimal, Dewan Minta SPMB Dievaluasi
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Kadis PKP) Bangli, I Wayan Sarma saat dikonfirmasi tidak menampik adanya fenomena semburan belerang yang terjadi tersebut. Menurut Sarma semburan belerang memang kerap terjadi di Danau Batur dan femomena ini merupakan siklus tahunan. Fenomena semburan belerang kerap terjadi pada bulan Januari-Febtuari dan juga bulan Juli-September.
Dari pantuan hingga saat ini semburan belerang telah meluas ke beberapa wilayah di Danau Batur, seperti perairan Toyabungkah, Songan,Terunyan dan perairan Abang dibarengi dengan kondisi angin dan ombak berembus dari arah Timur ke Barat. ”Kondisi yang terjadi mengakibatkan warna air danau tampak keputihan akibat semburan belerang,” jelasnya, Minggu 13 Juli 2025.
Lebih lanjut dijelaskan Sarma, atas kondisi yang terjadi pihaknya telah turun dan mengambil tindakan berupa memberikan himbauan kepada masyarakat khususnya bagi pembudidaya ikan agar tidak memberi pakan ikan selama perubahan air masih berlangsung (belerang).
Selain itu meminta masyarakat untuk tidak mendekati Karamba Jaring Apung (KJA) agar ikan bisa mengambil oksigen ke permukaan air. “Dan untuk menghindari kerugian lebih besar, ikan yang sudah bisa dipanen kami minta segera dilakukan pemanenan”, kata Kadis asal Desa Tembuku ini.
Baca Juga : Puri Agung Bangli Gelar Upacara Melapas Alit Jelang Karya Maligia Punggel
Disinggung terkait dampak semburan belerang terhadap produksi ikan, kata Sarma jika semburan belerang terjadi dalam kurun waktu yang lama yakni 7 sampai 10 hari akan menyebabkan kematian pada ikan. Hal ini tentu berpengaruh pada hasil produksi ikan danau.
“Dari hasil pemantauan petugas di lapangan sejauh ini belum ditemukan ikan mati, baik di KJA mapun diperairan umum. Untuk perkembanganya kami tetap lakukan pemantuan”, pungkasnya. (IGS)






