Persindonesia.com, Denpasar – Pura Goa Giri Putri di Nusa Penida, Klungkung, Bali menghadirkan wisata spiritual yang unik. Pintu masuk gua ini kecil dan sangat sempit hanya cukup untuk satu orang saja, namun setibanya di dalam ruangannya luas lega dengan panjang hingga 280 meter.
Berlokasi di Desa Adat Karangsari sebagai pengempon, pura di dalam gua ini tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga menawarkan pengalaman melukat (penyucian diri) dengan nuansa mistis yang khas.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini menyampaikan, Pura Goa Giri Putri menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang sayang untuk dilewatkan.
“Jadi jika wisatawan berkunjung ke Nusa Penida, maka lokasi ini wajib untuk dikunjungi. Karena sangat unik. Ada pura di dalam gua,” katanya.
Lumba-Lumba Hidung Botol Terdampar Mati di Pantai Batu Kebo
Sementara itu, Bendesa Adat Karangsari, I Kadek Muliastawan, mengungkapkan rata-rata kunjungan wisatawan asing mencapai 25 orang per hari, sementara wisatawan domestik sekitar 15 orang.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Mereka hanya diminta memberikan punia (donasi) secara sukarela.
Namun, seluruh wisatawan wajib mengenakan kain atau kamben serta selendang sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian pura. Perlengkapan tersebut dapat disewa di area parkir.
Sebagai pura kahyangan jagat, Pura Goa Giri Putri telah dibuka untuk umum sejak pelaksanaan karya agung pada tahun 2007. Sejak saat itu, pemedek dan wisatawan dapat mengakses lokasi ini setiap hari.
Sikat Perhiasan Emas dan Celelengan, Pekerja Serabutan Asal Peninjoan Terciduk Polisi
Pujawali di pura ini jatuh setiap Purnama Kelima dan biasanya berlangsung selama tiga hari (nyejer). Dalam rangkaian persembahyangan, pemedek akan melalui beberapa tahapan. Diawali dengan menaiki ratusan anak tangga menuju pelinggih Ida Hyang Tri Purusa lan Ganapati.
Selanjutnya, persembahyangan dilakukan di pelinggih Ida Hyang Wisnu dan Wasuki, yang berdekatan dengan lingga yoni sebagai simbol stana Dewa Siwa.
Rangkaian kemudian berlanjut ke beberapa pelinggih lainnya, termasuk Linggih Ida Hyang Dewi Gangga yang menjadi tempat pelaksanaan ritual melukat.
Prosesi melukat menjadi bagian penting sebelum sembahyang utama. Pemedek memohon penyucian lahir dan batin agar terbebas dari hal-hal negatif.
Vonis 15 Tahun Inkrah, Oknum PNS Jembrana Terancam Dipecat Tidak Hormat
Usai melukat, persembahyangan dilanjutkan ke pelinggih Ida Hyang Giri Pati dan puncaknya di pelinggih utama Ida Hyang Giri Putri yang berada di ceruk dinding gua.
Jro Mangku Gede I Nyoman Dunia menjelaskan, pelinggih utama ini menjadi pusat persembahyangan. Di lokasi tersebut terdapat dua pelinggih dari batu paras putih khas Nusa Penida, berdampingan dengan mata air yang terus menetes dari atap gua.
Di dekatnya juga terdapat tempat semadi (payogan) yang dipercaya sebagai tempat peraduan Hyang Giri Putri dan Hyang Giri Pati.
Rangkaian persembahyangan ditutup di pelinggih lainnya seperti Ida Hyang Siwa Amerta, Rambut Sedana, Melanting, Ratu Syahbandar, Dewi Kwan Im, hingga Dewa Langit dan Dewa Bumi. Area ini dihiasi ornamen bernuansa merah, seperti naga dan lampion, serta patung dewa-dewi khas Tionghoa.
Bupati Badung Kukuhkan Jegeg Bagus 2026, Usung Semangat Kreatif dan Berbudaya
Menurut Jro Mangku Dunia, pelinggih tersebut melambangkan dewa-dewa yang bersifat pemurah, pengasih, penolong, serta pembawa kemakmuran. Secara umum, keberadaan pelinggih ini mencerminkan konsep Siwa-Budha yang juga banyak dijumpai di pura-pura besar di Bali. (*)






