Bali Bersiap Sambut High Season

Persindonesia.com, Denpasar Pariwisata Bali bersiap untuk menyambut high season yang akan berlangsung pada Juni hingga Agustus.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan, terdapat beberapa event yang akan digelar di Bali saat musim tamu ramai berlibur ke Pulau Dewata. Salah satunya Pesta Kesenian Bali.

“Event ini akan berlangsung dari 13 Juni – 11 Juli di Taman Budaya Bali atau Art Centre,” katanya.

Tradisi Ngaben Susuri Laut di Nusa Penida

Menurutnya, event ini akan dimeriahkan 20 ribu seniman dari Bali hingga luar negeri. “Untuk partisipasi dari luar negeri diikuti 10 peserta. Diantaranya dari Timor Leste, Hongkong, India, New York, Korea, India, Tokyo, serta lainnya,” sebutnya.

Sementara itu, praktisi pariwisata Bali, I Ketut Darmayasa mengatakan, sejumlah hotel dan pelaku usaha pariwisata mulai mencatat kenaikan tingkat hunian.

Menurutnya, kondisi okupansi hotel di kawasan Kuta pada Mei 2026 berada di kisaran 60 hingga 70 persen.

Tim Jalak Nusa Berhasil Sibak Kabar Hilangnya Puluhan Tukik di Pantai Bias Muntig

“Kalau kita melihat praktik di lapangan, teman-teman industri pariwisata memang sedang mempersiapkan momentum liburan panjang ini dari awal. Untuk bulan Mei sendiri, rata-rata okupansi di daerah Kuta kurang lebih sekitar 60 sampai 70 persen,” ujar Darmayasa.

Ia menjelaskan, peningkatan okupansi mulai terlihat pada akhir pekan lalu, khususnya saat periode Kamis hingga Sabtu yang bertepatan dengan libur panjang. Selain itu, momentum hari raya dan long weekend pada akhir Mei diperkirakan kembali mendorong tingkat hunian hotel di Bali.

“Di akhir minggu-minggu ini, terutama menjelang liburan panjang minggu lalu, hari Kamis, Jumat, Sabtu ada kenaikan Isa Almasih. Kemudian minggu depan juga mulai tanggal 22 ada hari raya dan long weekend, itu akan menambah tabungan okupansi buat hotel-hotel,” kata Darmayasa yang juga Chairman Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC) Bali ini.

Desa Wisata Blangsinga Pilihan Tepat Menikmati Suasana Bali

Meski demikian, Darmayasa mengakui kondisi kunjungan wisatawan saat ini masih cukup berat bagi industri pariwisata Bali. Peningkatan kunjungan memang mulai terlihat, namun masih berlangsung secara bertahap. “Kalau melihat kondisinya, saat ini memang agak struggling, tapi masih ada potensi kenaikan meskipun naiknya bertahap,” ujarnya.

Terkait penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, Darmayasa menilai kondisi tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap tingkat hunian maupun harga kamar hotel di Bali. Sebab, sebagian besar wisatawan telah melakukan reservasi jauh hari sebelumnya.

“Kenaikan dolar itu belum ada korelasinya dengan kenaikan okupansi hotel saat ini. Mungkin kita akan lihat perkembangannya ke depan apakah nanti berdampak atau tidak,” katanya.

Laklak Hangat di Homestay Desa Tajen Wajib Dikunjungi

Ia menambahkan, harga kamar hotel juga belum mengalami penyesuaian akibat kenaikan dolar. Namun, perubahan harga tetap bergantung pada tingkat permintaan wisatawan saat memasuki puncak high season nanti.

“Harga kamar pun karena tamu-tamu saat ini melakukan reservasi di awal, jadi belum ada konektivitas atau korelasi dengan harga dolar saat ini. Hotel itu tergantung demand, kalau demand-nya tinggi pasti secara tidak langsung harga akan mengalami kenaikan,” ungkapnya.

Selain faktor ekonomi global, situasi geopolitik internasional juga menjadi perhatian pelaku industri pariwisata Bali, termasuk konflik di Timur Tengah yang dikhawatirkan dapat memengaruhi mobilitas wisatawan mancanegara.

Lulus Tanpa Skripsi Jalur Alternatif Bisa Jadi Pilihan, FISIP UBB Gelar Workshop

“Masih ada beberapa isu yang ada. Mudah-mudahan saja nanti selalu berdampak positif terhadap segala perkembangan yang ada, termasuk dampak dari perang Timur Tengah,” tandas General Manager di Grand Istana Rama Hotel di Kuta ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *