Hadapi Ancaman Kekeringan, BPBD Jembrana Pastikan Distribusi Air Bersih Siap Bergerak

Musim Kemarau Diprediksi Hingga September, BPBD Jembrana Siagakan Tandon dan Tangki Air

Persindonesia.com Jembrana – Menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana memastikan seluruh sarana distribusi air bersih telah disiagakan. Mulai dari tandon hingga mobil tangki air dipastikan siap diterjunkan sewaktu-waktu apabila terjadi krisis air bersih di wilayah yang rawan kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, mengatakan berdasarkan hasil rapat koordinasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri, wilayah Indonesia, khususnya yang berada di selatan garis khatulistiwa, diperkirakan akan memasuki musim kemarau hingga sekitar September. Meski demikian, potensi hujan masih tetap ada.

“Perkiraannya musim kemarau berlangsung sampai September, tetapi karena ini sifatnya prediksi, waktunya bisa saja lebih cepat atau lebih lambat,” ujarnya, Kamis (9/7).

Gugat Anak Kandung, Ayah di Tegal Diduga Nekat Jual Tanah Warisan yang Masih Bersengketa

Menurut Agus, BPBD Jembrana telah menarik seluruh tandon air ke kantor agar dapat segera didistribusikan apabila sewaktu-waktu terjadi krisis air bersih. Selain itu, armada tangki air juga telah disiagakan.

Ia mengungkapkan, Jembrana menjadi satu-satunya kabupaten di Bali yang menerima bantuan tangki air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Secara nasional, bantuan tersebut hanya diberikan kepada 26 kabupaten/kota.

“Artinya, dari sisi kesiapan kami sudah siap apabila masyarakat membutuhkan bantuan air bersih,” katanya.

Kalap Usai Dilarang Bertemu Istri, Pria di Baluk Tebas Sepupu Istri dengan Pisau Dapur

Hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan adanya warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan. Beberapa permintaan air yang masuk hanya berkaitan dengan kebutuhan pembangunan pura dan diarahkan untuk berkoordinasi dengan instansi lain agar tidak menggunakan cadangan air bersih BPBD.

Meski demikian, BPBD tetap mengantisipasi sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan, di antaranya Desa Manistutu, Tukadaya, Pendem, Mendoyo Dauh Tukad, serta Yehembang.

Khusus di Desa Pendem, masyarakat sebelumnya telah memperoleh bantuan sumur bor dari Kepolisian Republik Indonesia. Sementara di Yehembang, persoalan kekurangan air sempat dipicu rusaknya jaringan distribusi air akibat banjir sehingga warga harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh.

Truck Bermuatan Sekam dan Kotoran Ayam 400 Sak Terguling di Bangli, Arus Lalin Tersendat

Agus menambahkan, dalam waktu dekat Balai Wilayah Sungai (BWS) akan turun ke Jembrana untuk melakukan survei sekaligus menyalurkan bantuan dari pemerintah pusat. Bantuan tersebut dapat berupa pembangunan jaringan perpipaan maupun pengeboran sumur di daerah yang membutuhkan.

“Bantuan ini tidak hanya untuk kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga untuk mendukung pengairan lahan pertanian. Ketahanan pangan tentu sangat bergantung pada ketersediaan air,” jelasnya.

BPBD juga telah mendistribusikan sejumlah tandon berkapasitas besar ke beberapa wilayah seperti Mendoyo dan Pendem. Sementara satu tandon di Tukadaya mengalami kerusakan setelah landasannya ambruk.

Vonis Mati Pelaku Pembunuhan Lima Orang Sekeluarga di Paoman Indramayu, Majelis Hakim Nyatakan Kejahatan Dilakukan Secara Terencana

Selain untuk mengantisipasi kekeringan, keberadaan tandon air juga dipersiapkan sebagai cadangan apabila terjadi kebakaran, terutama di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berpotensi mengalami kebakaran saat musim kemarau.

Agus menjelaskan, tandon berukuran sedang memiliki kapasitas sekitar 2.000 liter, sedangkan tandon bantuan dari BNPB mampu menampung hingga 5.200 liter air. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *