Debit Sungai Pangkung Gayung Menyusut, Warga Berebut Air hingga Bongkar Pipa

Persindonesia.com Jembrana – Kemarau panjang menyebabkan debit air di Sungai Pangkung Gayung, Desa Berangbang, Kabupaten Jembrana, menyusut drastis. Kondisi tersebut memicu keributan antarwarga yang saling berebut air bersih hingga terjadi aksi buka tutup hingga pembongkaran pipa.

Di lokasi tersebut terdapat dua kelompok pengelola air bersih yang sama-sama memanfaatkan aliran sungai, yakni BUMDes Desa Berangbang dan Kelompok Air Bersih.

Direktur Utama Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Amertha Buana Jati Kabupaten Jembrana, I Gede Puriawan, membenarkan adanya keributan tersebut. “Ribut kemarin di hulu, di sumber air itu ribut. Jadi ada kelompok, ada BUMDes di situ, saling berebut mengambil air di sana,” ujar Puriawan saat dikonfirmasi.

Bali dan Timor-Leste Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Koster Buka Peluang Kolaborasi Berbagai Sektor

Puriawan mengatakan, pihaknya telah turun langsung ke lokasi setelah menerima laporan warga untuk mengecek kondisi debit air dan akar permasalahannya. “Karena ada laporan warga sehingga kami langsung ke sana biar tahu dulu bagaimana debitnya, kemudian permasalahannya apa, terus nanti kita ambil solusi,” katanya, Rabu (7/10).

Ia mengungkapkan, di lapangan warga saling berebut hingga melakukan aksi buka-tutup pipa bahkan membongkar pipa milik kelompok lain. “Kemarin warga saling rebut air, ada yang buka pipa ada yang tutup pipa sampai ada pipa dibongkar,” jelasnya.

Menurutnya, konflik tidak terhindarkan karena debit sumber yang memang kecil akibat kemarau, sementara pengambilan air dilakukan bersamaan oleh banyak pihak melalui banyak pipa yang terpasang di sungai. “Harus digilir itu, nggak mungkin bareng. Kalau kita bareng gunakan itu pasti tekanannya kecil dia. Itu masalahnya kemarin, memang kecil, aduh ini ngeri ini sebenarnya,” ujarnya.

Sempat Tuai Sorotan, SatPolPP Bangli Tancap Gas Tertibkan para PKL di Anjungan Penelokan

Puriawan mencatat, BUMDes Berangbang sendiri memiliki sekitar 700 pelanggan yang terdampak dan tidak mendapatkan pasokan air secara maksimal.

Untuk mencegah konflik susulan, PDAM Tirta Amertha Buana Jati akan memediasi kedua kelompok melalui rapat bersama pada hari Jumat mendatang. “Jumat saya rapat lagi memanggil semua. Nanti di dalam rapat itulah kita buat kesepakatan. Jadi nantinya warga digilir mendapatkan air, hanya ini jalan keluarnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, sistem gilir akan dibuat secara tertulis dan disepakati bersama agar tidak ada tindakan sepihak di lapangan. “Bagaimana sistem gilir ini, siapa yang melaksanakan menutup pipa nanti, berapa hari gilirannya, siapa saja, dibuatkan jadwal yang tertulis. Jadi kalau sudah tertulis bersama-sama duduk kan nggak sepihak di lapangan, baru bisa aman,” pungkasnya. Ts