Persindonesia.Com,Bangli – Imbas dari menurunya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bangli yang terungkap dalam Rapat Kerja (Raker) antara DPRD bersama OPD penghasil dilingkungan Pemkab Bangli mendapat sorotoan dari sejumlah Wakil Rakyat Bangli. Menurut Satria Yudha, pihaknya menyayangkan para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) belum sepenuhnya menguasai secara keseluruhan Potret Bangli.
Padahal Potret Bangli itu, yang nantinya akan menjadi dasar dan acuan untuk mengambil langkah lebih lanjut. “Kalau Potret Bangli ada secara keseluruhan, itu akan memudahkan mengetahui potensi-potensi PAD, sehingga mempermudah investor masuk Bangli dan bisa jadi sarana promosi juga,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bangli ini.
Baca Juga : Realìsasi PAD Anjlok, DPRD Bangli Minta BRIDA Upayakan Inovasi
Lebih lanjut kata Politisi Partai PDI Perjuangan ini, ketika potret Bangli ini sudah ada. Baru bisa bekerja dengan baik dan maksimal. Kan katanya ada 52 Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang sudah di SK-kan. Pernah gak disentuh oleh Dinas Pariwisata. Tidak kan?. Dimana saja, DTW itu, mana yang sudah dibantu pemerintah dan mana yang sudah ada tamunya, mana yang perlu dipromosikan, kan itu yang belum ada selama ini.
Ini sebagai contoh terkait potret Bangli di bidang Pariwisata. Yang jelas, kata Satria Yuda, untuk meningkatkan PAD Bangli khususnya di bidang pariwisata, Potret Bangli harus jelas dulu. “Mana DTW yang mau dikembangkan dan apa kontribusi pemerintah dalam pengembangannya. Setelah itu, baru bisa memungut retribusi”, tegasnya.
Kata Satria Yudha, ketika Potret Bangli dipertanyakan kepada pimpinan OPD, pihaknya belum mendapatkan jawaban yang jelas.
Demikian juga terkait pajak, yang juga sangat penting guna mengetahui mana saja usaha yang sudah memiliki izin dan yang belum.
Ketika Potret Bangli ini sudah jelas maka tidak akan ada saling menunggu dan saling menyalahkan. Tindak lanjutnya akan jadi lebih jelas ketika sudah ada Potret.
“Dengan begitu Bupati tinggal menargetkan jika sudah ada Potret Bangli. Ketika Dinas terkait mampu memenuhi target, berikan TPP. Ketika tidak mampu, TPP-nya jangan diberikan. Kan memang begitu prinsip TPP sebagai reward and punishment,” ungkapnya.
Dalam hal ini, kata Satria Yudha, pegawai harus berani keluar zona nyaman. “Karena kami di Dewan kan tidak pernah lakukan evaluasi terkait TPP. TPP kan reward and punishment. Sehingga TPP bisa diberikan bisa tidak. Menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Terlebih PAD Bangli yang sudah kecil justru kian turun,” sebutnya.
Ketika Potret Bangli sudah ada maka saat berbicara PAD akan jadi lebih jelas. Tidak lagi sekedar meraba-raba dan mengatakan baru akan. “Ketika Bangli jengah, baru akan. Kan sudah terlambat. Bagaimana kita bicara jengah, kalau startnya baru akan dan masih angan – angan,” tandasnya.
Rapat Kerja yang dipimpin oleh Ketua DPRD Bangli, I Ketut Suastika tersebut menjadi tonggak untuk memperbaiki kinerja ditengah anjloknya PAD Bangli. Menurutnya, maju mundurnya keuangan daerah bersumber dari pendapatan. Terlebih, berkaca dari tahun sebelumnya, realisasi target PAD Bangli mengalami penurunan.
“Hasil Raker tadi trend target bulanan dari Januari – Februari justru turun,” ungkap Politisi dari Partai PDI Perjuangan ini, Senin (2/3).
Baca Juga : Berpotensi Dongkrak PAD, Dewan Bangli Dukung Ahli Fungsi Lahan Eks Kantor Disparbud
Untuk itu, kata Suastika, pihaknya meminta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) segera turun melakukan penelitian soal turunnya PAD yang terjadi selama dua tahun ini. BRIDA harus melakukan penelitian dan riset secepatnya. Dan sebagai tindak lanjut lakukan koordinasi dengan stakeholder terkait sehingga diketahui penyebab kebocorannya dimana dan sebagainya. Serta bagaimana cara mengatasi (solusinya).
“BRIDA semestinya mengkaji. Idealnya apa yang harus dilakukan sehingga capaian PAD bisa sesuai target,” tegas politisi asal Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli ini.
Dalam hal ini, pihaknya juga menekankan agar data potret Bangli secara menyeluruh diberikan OPD untuk menggambarkan potensi, sumber penghasil sekaligus kendalanya untuk bisa melakukan tindak lanjut kedepannya. (*)






