Persindonesia.com Jembrana — Penularan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi di Kabupaten Jembrana mulai terkendali. Hingga April 2026, tidak ditemukan penambahan kasus baru, meskipun sejumlah ternak masih menjalani proses penyembuhan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kabid Keswan-Kesmavet), Gusti Ngurah Putu Sugiarta mengatakan, saat awal kasus tercatat sebanyak 35 ekor ternak terjangkit. Dari jumlah tersebut, sebagian sudah dinyatakan sembuh, sementara lainnya terpaksa dijual atau dipotong, dan sisanya masih dalam perawatan oleh pemilik.
“Untuk kasus LSD di Kabupaten Jembrana sampai bulan April ini sudah mulai menurun dan tidak ada penambahan kasus baru,” ujarnya, Selasa (14/4).
Komisi IV DPRD Badung Bahas LKPJ 2025 Bersama 8 OPD, Soroti Serapan Anggaran hingga Fasilitas Publik
Ia menegaskan, meskipun tidak ada kasus baru, proses pemulihan pada ternak masih terus berlangsung. “Kasusnya sudah tidak bertambah, namun masih dalam tahap penyembuhan,” tambahnya.
Sebelumnya, kata Sugiarta, penyebaran LSD sempat terjadi di enam desa dan meluas hingga mencakup empat kecamatan, yakni Kecamatan Jembrana, Negara, Mendoyo, dan Melaya. “Untuk Kecamatan Pekutatan hingga kini masih belum terdampak,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya belum berani menetapkan klasifikasi zona secara tegas. “Kami tidak berani menyebut zona merah atau kuning, karena statusnya lebih pada tertular, terdampak, atau terduga,” jelasnya.
Gubernur Koster Perkuat Kolaborasi Antar Wilayah, 22 Proyek Prioritas Siap Didorong hingga 2029
Dari sisi penanganan, lanjut Sugiarta, pemerintah telah mengalokasikan sebanyak 3.940 dosis vaksin LSD. “Hingga saat ini, sekitar 2.100 dosis telah digunakan, sementara sisanya masih dalam proses distribusi dan pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan setiap hari,” terangnya.
Untuk efektivitas pelaksanaan, imbuh Sugiarta, jadwal vaksinasi dibagi menjadi dua kegiatan. Vaksinasi rabies dilaksanakan setiap Senin hingga Rabu, sedangkan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta LSD dilakukan pada Kamis dan Jumat.
Disinggung terkait pengawasan lalu lintas ternak, Sugiarta mengaku, pengawasan masih diperketat guna mencegah penyebaran virus. “Petugas di lapangan terus melakukan monitoring agar ternak yang diduga terinfeksi LSD tidak diperjualbelikan atau dipindahkan dari wilayah terdampak. Tujuannya agar sapi yang suspect LSD tidak keluar dari zona tertular atau terdampak,” tandasnya. TS






