Persindonesia.com Jembrana – Penataan Kawasan Gilimanuk terus ditingkatkan oleh Pemkab Jembrana, hal tersebut merupakan pintu masuk dan keluar Pulau Bali. Penataan dimulai dari keberadaan Gelung Kori. Bangunan berkaki empat tersebut yang terletak di jalan utama Gilimanuk Denpasar dibangun sekitar tahun 1996 pada jaman Bupati Indugosa.
Penataan kali ini bangunan Gelung Kori tersebut dipercantik dihiasi lampu warna warni yang terlihat pada saat malam hari. Selain itu bangunan persegi empat tersebut diyakini mempunyai nilai spiritual bagi yang melintas hal tersebut merupakan sebagai pintu masuk Bali.
Saat dikonfirmasi awak media Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengatakan, warisan tersebut merupakan yang bernuansa spiritualnya. Bangun berbentuk bekaki empat tersebut diyakini berisi pengurip-urip dan pengelukatan (pembersihan) bagi yang melewati dibawahnya. “Percaya atau tidak inilah yang perlu di yakini hingga kini,” terangnya. Rabu (11/8/2021).
Ia melanjutkan, kesan religi yang ada memang ada sejak dahulu. Hal inilah yang perlu dibangkitkan ulang lagi. Untuk penataan lampu di malam hari sudah kelihatan bagus. Bahkan masyarakat sudah merasakan dan menikmati nuansa ini bahkan lebih semarak.
Polres Metro Depok Lakukan Penjagaan Ketat Terhadap Pejabat Negara Yang Berkunjung Ke Depok.
“Tidak hanya itu, kota pun harus lebih semarak. Bahkan di ujung Jembrana di pantai Leh juga akan ditata sama. “Semua akan dikerjakan Non APBD dan ini tanggungjawab saya sebagai bupati. Kita bekerjasama dengan pihak ketiga. Justru ini masih banyak yang akan mensuport tempat-tempat yang ada di Jembrana,” ujarnya.
Untuk pintu masuk Gilimanuk, imbuh Tamba, pihaknya akan rubah dan sudah melakukan MoU dengan pihak ASDP, “ini tinggal menunggu design saja. Gilimanuk juga banyak menyimpan misteri, disana ada Museum KSI Manusia Purba, potensi itu kita belum gali dikarenakan waktu belum ada,” uraiannya.
Babinsa Desa Senyubuk Gelar Penyemprotan Disenfektan
Terkait penataan kawasan wilayah Gilimanuk, Bupati Tamba mengharapkan kerjasama antar warga disana, menurutnya, warga Gilimanuk harus berani bertanggungjawab mengenai kebersihan dan kerapian wilayah tersebut hal tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri.
“Untuk penertiban kawasan Gilimanuk akan di tata kembali dimana warga Gilimanuk harus berani bertanggungjawab mengenai wilayah itu. Dimana kebersihan dan kerapian wilayah tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri. Justru ini bisa dinikmati juga oleh warga yang di Gilimanuk. Sebagai bupati saya akan tinjau wilayah Gilimanuk,” paparnya.
Mengenai wisata Karang Sewu yang sudah dikenal oleh masyarakat Bali maupun luar Bali, ini masih dalam penataan. “Mohon bersabar kita akan terus menata sehingga saudara di seberang seperti Banyuwangi dan Situbondo serta Jember bisa berkunjung ke Karang Sewu. Semua akan segara digarap akan tetapi kita tata dulu kependudukan di Gilimanuk,” tegasnya.
Lebih jelasnya ia mengatakan, terkait kependudukannya HPL juga akan dibedah untuk mempertegas dan memperjelas status HPL seperti apa. “Ada kesan HPL disewa kepada pemerintah tapi terjadi beberapa kali penyewaan dan lagi, dan itu terus terjadi,” tutupnya. (sb/ed27)






