Proyek Jalan Beringin–Jatibagor Senilai Rp4 Miliar Disorot, Progres Pengerjaan Dinilai Lambat, Anak Sekolah Jadi Korban

Persindonesia.com Tegal – Proyek pembangunan dan peningkatan jalan rigid beton ruas Beringin–Jatibagor di Desa Babakan, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, mendapat sorotan karena progres pengerjaannya dinilai berjalan lambat. Proyek dengan nilai lebih dari Rp4 miliar yang dibiayai melalui anggaran pemerintah tersebut juga disebut berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk akses menuju SMP Negeri 2 Kramat.

Berdasarkan pantauan di lokasi, proyek sepanjang 1.600 meter dengan lebar lima meter itu mulai dikerjakan berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) tertanggal 26 Juni 2026. Namun hingga awal Agustus 2026, perkembangan fisik di lapangan masih terbatas.

Sejauh ini, pekerjaan baru mencapai sekitar 525 meter untuk lapisan dasar atau lean concrete (benol). Sementara itu, pengecoran rigid beton utama maupun penyelesaian bahu jalan belum dilaksanakan.

Putri Koster Hidupkan Semangat Nasionalisme Lewat Pembacaan Puisi Kumbakarna di Buleleng

Kondisi tersebut menyebabkan akses jalan belum dapat difungsikan secara optimal. Selain menjadi jalur utama transportasi warga, ruas jalan tersebut juga merupakan akses yang setiap hari digunakan siswa dan tenaga pendidik SMP Negeri 2 Kramat.

Pengawas proyek yang ditemui di lokasi pada Selasa (4/8/2026) membenarkan adanya keterlambatan pekerjaan. Menurutnya, proses pembangunan terkendala waktu tunggu hasil uji laboratorium beton yang menjadi syarat sebelum pengecoran utama dapat dilakukan.

“Keterlambatan ini karena pelaksana harus menunggu hasil uji laboratorium beton yang lumayan lama keluar. Selain itu, pelaksana mengejar panjang lantai dasar terlebih dahulu agar progres deviasi minus pekerjaan tidak menyentuh angka 10 persen, sesuai instruksi dinas,” ujar pengawas proyek.

Koster: Kinerja Bank BPD Bali Sangat Baik, Masih Berpeluang Tembus Laba Rp1,5 Triliun

Selama proses pengerjaan, warga mengaku terdampak oleh kondisi jalan yang belum selesai. Material yang masih berada di badan jalan, debu saat cuaca kering, serta penyempitan akses dinilai mengganggu kenyamanan dan berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama para pelajar.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tegal, Teguh, membenarkan adanya keterlambatan pada tahapan pengecoran rigid beton. Melalui pesan WhatsApp, ia menjelaskan, pekerjaan rigid beton harus melalui beberapa tahapan, mulai dari pengerjaan lean concrete (benol), pemasangan plastik, pembesian, hingga pengecoran beton utama yang baru dapat dilakukan setelah hasil uji laboratorium memenuhi persyaratan.

Menurutnya, setelah hasil uji laboratorium diterima, proses pengecoran utama mulai dilaksanakan pada Selasa (4/8/2026).

Ketua DPRD Kobar Geram Saat Pimpin Audiensi Antrian BBM dan Pemadaman Listrik Bergilir

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tegal melalui Dinas PUPR terus melakukan pengawasan secara intensif terhadap pelaksanaan proyek tersebut agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target waktu, memenuhi standar kualitas, serta meminimalkan dampak terhadap aktivitas warga. (Karmono)