Conde Nast Traveler Nobatkan Desa Penglipuran sebagai Kawasan Terindah Dunia 2026

PERSINDONESIA.COM – Desa Penglipuran, Kecamatan/Kabupaten Bangli, Bali masuk daftar “The 53 Most Beautiful Small Twons in the World” atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai salah satu dari 53 Kota Kecil Paling Indah di dunia tahun 2026 versi majalah Conde Nast Traveler. Yang mana sebagai kawasan Desa Wisata, Penglipuran tetap bisa menjaga tata ruang tradisional berbasis Tri Mandala, arsitektur rumah yang seragam dan rapi, serta kawasan hutan bambu tertata asri.

Baca Juga : Beri Kemudahan Wisatawan, Desa Wisata Penglipuran Perkuat Transaksi Digital

Penobatan yang diberikan tersebut tentunya memberi marwah bagi Desa Penglipuran untuk tetap bisa menjaga tatanan yang ada agar tetap eksis, sehingga tidak hanya berdampak bagi kehidupan pariwisata akan tetapi lebih dari itu, bagaimana masyarakat bisa merasakan upaya yang dilakukan memberi ruang dan waktu bagi kehidupan skala serta niskala.

“Kami merasa bangga dan bersyukur atas pengakuan dari Condé Nast Traveller ini. Bagi kami, ini merupakan apresiasi terhadap apa yang selama ini dijaga oleh masyarakat Penglipuran, baik dari sisi budaya, tata ruang desa, maupun lingkungan,” ujar I Wayan Sumiarsa selaku Ketua dari Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, Senin (12/10/2026).

Menurut Sumiarsa, pengakuan yang diraih tersebut, tentunya membawa tanggungjawab serta tantangan lebih besar ke depannya. Dikatakannya, di tengah pesatnya perkembangan saat ini, tantangan ke depan terletak pada bagaimana pariwisata terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat, tanpa menghilangkan nilai-nilai adat dan keaslian desa.

“Mengingat Desa Penglipuran bisa terkenal, karena nilai-nilai tradisi adat dan keaslian desa secara turun temurun hingga kini masih bisa dijaga,” ungkapnya.

Baca Juga : Isyaratkan Kebersamaan dan Kepedulian, Desa Penglipuran Sepakati Galungan Tanpa Penjor

Ia menegaskan pihaknya tidak ingin Penglipuran hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kesungguhan masyarakatnya dalam menjaga warisan leluhur. Marwah kebersamaan dalam menjaga tatanan yang ada, tentunya menjadi hal terpenting untuk menjadikan Penglipuran bisa tetap eksis dan terus maju.

“Bagi kami, mempertahankan apa yang sudah ada serta terus melakukan perbaikan atas kekurangan-kekurangan dengan memperhatikan tatanan yang ada adalah hal yang paling penting,” tandas Sumiarsa. (*)