Persindonesia.com, Denpasar – Pantai Petitenget di Desa Adat Kerobokan, Badung menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan suasana yang lebih tenang, panorama matahari terbenam yang memikat, serta nilai sejarah dan religi yang tetap terjaga hingga kini.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini mengatakan, Pantai Petitenget ini menyajikan panorama sunset cantik. “Selain untuk menikmati keindahan sunset, di lokasi ini juga terdapat sejarah religi yang menarik untuk disimak,” ungkapnya di Denpasar, Selasa (28/4).
Sementara itu, Bendesa Desa Adat Kerobokan AA Ngurah Putra Suryaningrat mengatakan Pantai Petitenget memiliki daya tarik yang tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga sejarah panjang perkembangan agama Hindu di Bali.
Astaga! Bocah Asal Songan Meregang Nyawa Pasca Digigit Anjing Saat Bermain
Menurut panglingsir Puri Kajanan Kerobokan ini, kawasan tersebut berkaitan erat dengan perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh di Bali. “Salah satunya yang terkenal ialah Pantai Petitenget. Pantai itu sarat dengan sejarah keberadaan agama Hindu di Bali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam cerita turun-temurun, saat itu kawasan tersebut dulunya masih berupa hutan liar yang dianggap angker atau ‘tenget’. Di tempat itu, Dang Hyang Dwijendra disebut pernah singgah dalam perjalanan spiritualnya menuju Pura Luhur Uluwatu. Saat berada di kawasan tersebut, beliau bertemu dengan Bhuta Ijo yang diyakini sebagai penguasa hutan.
Singkat kata, dalam kisah itu Dang Hyang Dwijendra kemudian menitipkan pecanangan atau tempat sirih kepada Bhuta Ijo untuk dijaga. Dari kisah itulah nama Petitenget dipercaya berasal, yakni dari kata ‘peti’ yang merujuk pada tempat suci tersebut dan ‘tenget’ yang berarti angker atau sakral.
Dari Denpasar, Sopir Pikap Buang Sampah di Hutan TNBB Gilimanuk, Ngaku Sudah Dua Kali
“Di sana beliau masuk, ketemu dengan Buto Ijo yang menguasai hutan sana. Beliau punya tempat tempat sirih, lalu ditaruh dan dijaga oleh Buto Ijo. Makanya petinya itu dikeramatkan dan jadi Petitenget,” katanya. Hingga kini, peninggalan sejarah itu diyakini melekat pada keberadaan Pura Petitenget yang berdiri di kawasan pantai.
Pura tersebut adalah Pura Masceti Ulun Tanjung yang dikenal sebagai tempat pemujaan kemakmuran. Keberadaan pura dan kawasan suci inilah yang membuat Pantai Petitenget memiliki karakter berbeda dan cukup unik dibanding pantai wisata lainnya.
Menurut Ngurah Putra, wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang umumnya tidak hanya menikmati pemandangan pantai, tetapi juga melihat langsung peninggalan sejarah berupa pura di kawasan itu. “Wisatawan yang datang, mau domestik maupun internasional, di samping menikmati pantai mereka akan melihat situs peninggalan itu, puranya itu. Biasanya mereka masuk, foto-foto,” ungkapnya.
Menikmati Sunrise di Kintamani Bangli
Selain itu, Pantai Petitenget juga dikenal nyaman untuk bersantai karena aksesnya strategis di utara Seminyak dan berdekatan dengan restoran serta pusat wisata lain. Meski demikian, aktivitas selancar di kawasan ini tidak terlalu ramai. Untuk surfing, wisatawan biasanya bergeser ke arah selatan atau menuju kawasan Canggu.
Ia menambahkan, pengunjung yang masuk kawasan pura tetap diingatkan untuk menaati tata tertib adat dan kesucian tempat. Wisatawan perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan masuk area suci. Bagi pengunjung yang belum mengenakan busana adat, di sekitar lokasi tersedia penyewaan kamen dan selendang.
Selain unsur sejarah dan religi, Pantai Petitenget juga dikenal sebagai lokasi favorit menikmati matahari terbenam dan dikenal lebih santai dibanding kawasan pantai lain yang lebih ramai di Bali selatan. Setiap sore kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin bersantai sambil menunggu senja. Suasana paling ramai biasanya terjadi saat akhir pekan.
Sungai Gelar Jembrana: Pesona Wisata Alam yang Tak Pernah Surut, Kini Dilengkapi Arung Jeram
Bentangan pantai di wilayah Kerobokan disebut cukup panjang, mulai dari kawasan Pantai Batu Belig, Petitenget, hingga berbatasan ke arah Canggu. Garis pantai yang luas itu menjadi salah satu daya tarik kawasan pesisir Kerobokan.
Meski demikian, wisatawan yang ingin berenang diminta tetap memperhatikan faktor keselamatan. Di beberapa titik, terutama di depan kawasan pura, terdapat arus bawah laut yang cukup kuat sehingga dipasang bendera merah sebagai tanda larangan berenang. “Ada batas-batas wilayah di depan pura itu karena arusnya narik ke dalam. Dipasang bendera merah, dilarang berenang. Tapi sisi selatan dan utaranya boleh,” jelasnya.
Untuk menikmati Pantai Petitenget, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir kendaraan. Untuk sepeda motor sekitar Rp 2 ribu, sedangkan mobil sekitar Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu. Masyarakat maupun wisatawan bebas datang selama menjaga kebersihan dan kesopanan di kawasan pantai. (*)






