Harga Cabai Melonjak di Jembrana, Cuaca Buruk dan Penutupan Selat Bali Jadi Pemicu

Persindonesia.com Jembrana – Diduga dipicu akibat cuaca buruk yang menyebabkan gagal panen di sentra produksi, serta terhambatnya pengiriman dari Jawa pasca-penutupan pelayaran di Selat Bali beberapa waktu lalu, harga cabai merah kecil di sejumlah pasar di Kabupaten Jembrana, Bali, kembali melonjak tajam. Kondisi ini membuat para ibu rumah tangga dan pengusaha kuliner yang bergantung pada cabai harus bersiap mengencangkan ikat pinggang.

Peningkatan harga cabai merah kecil ini terjadi secara bertahap sejak seminggu terakhir. Dari semula Rp25.000 per kilogram, harganya naik menjadi Rp60.000 per kilogram dua hari yang lalu, dan pada hari ini, Kamis (26/6/2025), kembali melonjak hingga mencapai Rp80.000 per kilogram.

Menurut sejumlah pedagang, melonjaknya harga cabai ini disebabkan oleh minimnya pasokan. “Saat ini tidak ada pengiriman cabai dari Jawa, dan daerah penghasil cabai lainnya di Bali seperti Tabanan dan Buleleng juga mengalami hal serupa,” ungkap Ni Ketut Netri, seorang penjual bumbu dapur, saat dikonfirmasi awak media pada Jumat (27/6/2025)

Libur Panjang, Siapkan 31 Kapal dan Permanenkan KMP Portlink VII untuk Rute Ketapang-Gilimanuk

Curah hujan tinggi menjadi penyebab utama banyaknya petani yang mengalami gagal panen. Bahkan, penutupan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk akibat cuaca buruk kemarin sangat mengganggu pendistribusian cabai dari Jawa ke Bali.

“Kalau panen kemudian hujan, cabai banyak busuk dan tidak ada yang bisa dijual. Jadi harganya pasti naik,” tambah Netri, yang kini menjual cabai seharga Rp80.000 per kilogram. Ia juga menyebutkan, cabai merah besar kini dijual Rp32.000 per kilogram dari sebelumnya Rp30.000.

Kenaikan harga cabai merah kecil ini secara langsung berdampak pada penghasilan pedagang yang menurun akibat sepinya pembeli. Untuk menyiasati agar masyarakat tetap bisa membeli, beberapa pedagang mengaku mencampur cabai merah kecil berkualitas baik dengan kualitas sedang. Hal ini dilakukan agar harga jual bisa ditekan menjadi sekitar Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.

Kobaran Api Ludeskan Kandang Ayam Warga Susut, Kerugian Capai 2 Milyar

“Kalau saya, agar cabai lebih murah dan orang mau beli, saya campurin sedikit cabai putih,” jelas Ni Wayan Muliada, pedagang bumbu dapur lainnya.

Sejumlah warga yang membeli bumbu dapur mengeluhkan terus meningkatnya harga cabai saat ini. Kadek Dika, salah seorang pembeli, mengungkapkan kekesalannya. “Menurut saya, ini sangat memberatkan masyarakat, apalagi lonjakan harganya sangat tinggi,” ujarnya.

Mereka berharap pemerintah dapat segera turun tangan melakukan upaya untuk menstabilkan harga cabai agar kembali terjangkau oleh masyarakat.

Bali International Hospital Resmi Beroperasi, Prabowo: Wujud Kemajuan Indonesia sebagai Negara Besar

Tidak hanya cabai merah kecil, harga tomat di Kabupaten Jembrana juga mengalami kenaikan signifikan, dari Rp17.000 menjadi Rp35.000 per kilogram. Bahkan, menurut beberapa pedagang, sejak dua hari belakangan, kedua komoditas ini sempat mengalami kelangkaan. Akibatnya, banyak pedagang di Pasar Umum Negara yang tidak menjual tomat karena pasokan yang tidak ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *