Pertama Kali Hampir Dasawarsa, Upacara Mulang Pakelem Digelar di Selat Bali

Persindonesia.com Jembrana – Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali yang hingga kini masih menyisakan 16 korban hilang, menggerakkan masyarakat Gilimanuk bersama Pemkab Jembrana dan ASDP Indonesia Ferry untuk menggelar upacara Mulang Pakelem, sebagai bentuk permohonan keselamatan pelayaran. Upacara sakral ini akan digelar pada Jumat, 24 Juli 2025, bertepatan dengan ritual petik laut oleh nelayan setempat.

Ritual keagamaan ini menjadi yang pertama digelar kembali setelah hampir satu dekade terakhir. Prosesi upacara akan dimulai dari area Dermaga LCM yang bersebelahan dengan Pura Segara Gilimanuk. Dalam rangkaian upacara, masyarakat akan melarung berbagai persembahan, termasuk hewan kurban seperti kerbau dan angsa, ke tengah Selat Bali.

Bupati Inisiasi Upacara Segara Kerthi Mulang Pekelem, Jaga Harmoni Selat Bali

Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, membenarkan pelaksanaan upacara yang digagas bersama Desa Adat Gilimanuk dan difasilitasi oleh ASDP. “Atas bantuan Bapak Bupati Jembrana, kami bisa bersinergi dengan ASDP. Mereka akan menyiapkan armada dan fasilitas untuk pelaksanaan upacara,” ujar Toni, yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Karya, Kamis (24/7).

Ia menjelaskan, persiapan upacara telah dilakukan secara matang, termasuk konsultasi spiritual ke sejumlah griya di Gilimanuk dan Manistutu, Kecamatan Melaya. “Kami sudah mohon petunjuk dan restu dari para sulinggih untuk pelaksanaan mulang pakelem ini,” jelasnya.

Cegah Beras Oplosan, Tim Gabungan Sidak Pasar dan Pabrik Penggilingan di Jembrana

Menurutnya, dari sisi spiritual, upacara mulang pakelem bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam dan memohon keselamatan, khususnya di perairan Selat Bali yang menjadi jalur vital penyeberangan antar pulau. Pihak ASDP dan Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) turut memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan sarana dan persembahan (banten).

“Pelaksanaan ritual akan dikoordinasikan bersama unsur Kelurahan, Desa Adat Gilimanuk, serta Kecamatan Melaya,” tambahnya.

Monev di Nusa Penida, Wabup Tjok Surya Ingatkan Kades dan Jajaran Transparan Kelola Dana Desa

Menariknya, upacara mulang pakelem ini juga digelar bersamaan dengan tradisi tahunan petik laut yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Gilimanuk, khususnya warga muslim nelayan. Dalam tradisi petik laut, warga akan melarung kepala kerbau sebagai bentuk syukur atas hasil laut sekaligus doa keselamatan.

Setelah seluruh rangkaian persembahyangan di darat selesai, para pemangku adat, warga, serta nelayan akan bersama-sama menaiki kapal motor yang disiapkan oleh ASDP untuk menuju ke tengah laut. Di sanalah seluruh persembahan akan dilarung dalam prosesi nglarung, sebagai puncak dari upacara sakral ini. TS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *